Adian Napitupulu Lolos kembali ke Senayan

Adian Napitupulu Lolos kembali ke Senayan

Sosok Adian yang alumni Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Jakarta ( GMKI ) dikabarkan lolos kesenayan, Adian memperoleh suara 80. 228 suara dimana  Komisi Pemilihan Umum (KPU) tingkat Kabupaten Bogor telah melakukan hasil pleno penghitungan suara, pada Selasa (7/5) malam. Berdasarkan penghitungan suara itu, PDI Perjuangan mendapatkan 285.639 suara. Dengan begitu, Partai Banteng tersebut berhasil meloloskan Calegnya, Adian Napitupulu menuju Senayan (DPR-RI).  Walau Adian lolos kesenayan suaranya kalah dari pesaingnya Fadli Zon dari Partai Gerinda di Dapil yang sama Jabar V. Parpol PAN meraih suara 197.356, meloloskan caleg Primus Yustisio 86.983 suara. Pendatang baru di DPR, Elly Rachmat Yasin meraih 71.884 suara dengan raihan suara parpol PPP sebanyak 193.416. Partai Demokrat meraih suara 173.094 dan meloloskan caleg Anton Sukartono Suratto sebanyak 55.634 suara. Partai PKB meraih 134.107 suara serta meloloskan caleg Artis Tommy Kurniawan dengan raihan suara 33.988

Adian sang Aktifis 

Adian menyelesaikan sekolah dasarnya di SDN 01 Ciganjur, Jakarta dari tahun 1979 sampai 1985, sekolah menengah pertama di SMP Negeri 166 Jagakarsa Jakarta dari 1985 hingga 1988, dan terakhir bersekolah di SMA Negeri 55 Duren Tiga Jakarta dan tamat pada tahun 1991. Kemudian Adian melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia pada tahun 1991, karena berbagai macam kegiatan aktivismenya, ia baru dapat menyelesaikan studi S1-nya tersebut pada tahun 2007.

Sejak kuliah pun dirinya juga aktif di berbagai pergerakan kemahasiswaan. Itu dibuktikannya saat itu dirinya menjadi anggota Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di kampus tersebut dan kemudian mendirikan kelompok diskusi ProDeo pada tahun 1994. Bahkan dirinya juga terpilih menjadi senat mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) pada  tahun 1995. Tercatat saat itu Adian mengikuti demonstrasi solidaritas terhadap Sri Bintang Pamungkas yang membuatnya ditangkap dan diinterogasi polisi.

Ternyata sejak Adian masih duduk di bangku perkuliahan, pria yang kini berusia 48 ini pada tahun 1996 sudah dekat dengan PDI P dan Megawati Soekarnoputri. Saat itu dia mendirikan posko Pemuda Mahasiswa Pro Megawati yang merupakan satu-satunya organisasi non PDI yang memberikan dukungannya pada Megawati Soekarnoputri usai kejadian penyerbuan kantor DPP PDI pada tanggal 27 Juli 1996.

Bentuk dukungannya kepada Megawati pun dibuktikannya dengan mengumpulkan sejumlah kawan-kawan sesama aktivis untuk menggalang demonstrasi solidaritas. Demonstrasi pertama dilakukannya pada 28 Oktober 1996 di Gedung Sumpah Pemuda yang kemudian menyebabkan Adian ditangkap dan diinterogasi kembali oleh kepolisian.

Akhir tahun 1996, Adian membentuk Lembaga Bantuan Hukum Nusantara (LBHN) Jakarta bersama teman-temannya. Salah satu bantuan yang diberikan oleh lembaga ini adalah pengorganisasian terhadap Korban SUTET di Desa Cibentang, Parung, Jawa Barat. Pada tahun 1997, akibat aksi bantuannya itu Adian mendapat penganiayaan dari aparat.

Pada tahun yang sama, dia juga mendapatkan penganiayaan akibat menolak paksaan massa Golkar untuk menunjukkan jari tengah dan telunjuk yang merupakan lambang Golkar pada masa itu. Sejak mendapatkan kekerasan itu, Adian mulai berpindah-pindah kantor dan tidak berkantor tetap di LBHN sebab kondisi politik yang tidak stabil kala itu.

Sejak pergerakan Adian itu, pada tahun 1998 dirinya mulai diperhitungkan karena terlibat pada pendirian Komunitas Mahasiswa Se-Jabodetabek bernama Forum Kota. Organisasi yang berisi 16 kampus ini menjadi salah satu organisasi pertama yang menduduki gedung DPR/MPR Senayan pada tanggal 18 Mei 1998. Usai tumbangnya Orba pun, suami dari Dorothea Eliana Indah ini selalu saja terlibat dalam berbagai pergerakan dan aktivitas yang pro rakyat. Pada tahun 2009, Adian

mendirikan organisasi Bendera (Benteng Demokrasi Rakyat). Bendera dikenal sebagai organisasi yang melakukan protes dan mogok makan sebagai bentuk solidaritas atas nasib kaum buruh pada tahun 2012.

Pada tahun 2009, Adian sempat mendaftar menjadi calon anggota DPR melalui PDI P namun ternyata dia belum lolos ke Senayan pada waktu itu. Akhirnya pada tahun 2014, Adian Napitupulu berhasil duduk menjadi anggota DPR dari PDI Perjuangan dari Dapil Jabar V.

Pada masa pemilihan presiden (Pilpres) 2014 dan Pilpres 2019 Adian Napitupulu terang-terangan menolak calon presiden Prabowo Subianto karena latar belakangnya berkaitan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

( Pewarta : Sabar )

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *