Agama Harus Menjadi Rahmat bagi Semesta

Agama Harus Menjadi Rahmat bagi Semesta

Bila agama bisa mendamaikan semua manusia di muka bumi ini maka kedamaian sudah lama menjadi milik kita bersama di bumi, sebagaimana agama-agama sudah ribuan tahun dianut oleh manusia, kenyataannya justru sebaliknya kekacauan yg ada, berlawanan dgn arti dan tujuan a-gama tidak kacau, mengapa? semua agama saling klaim menjadi yg paling benar dan paling baik, agama dipandang sebagai suatu yg membedakan satu kelompok dgn lainnya, bahkan lebih superior dari lainnya, yg lain adalah tidak benar, tidak suci alias kafir!, bahkan merupakan ancaman bagi yg lain, keberagaman yg merupakan rahmat bagi semesta alam untuk saling melengkapi dan menyempurnakan dipandang sebagai ancaman bagi agama yg dianutnya, mengancam keberlangsungannya dan oleh sebab itu harus dilenyapkan, segala sesuatu hanya dipandang dari sudut perspektif yg sempit, agama bukan lagi sesuatu yg menyatukan, sebaiknya menjadi pembenaran utk saling menghina & menyakiti, memaksakan satu dgn lainnya, bahkan menjadi kekuatan yg mengerikan (baca: atas nama Tuhan) menghancurkan kota dan bangsa (Suriah, Marawi, Nigeria dll) agama bukan dipahami sebagai “jalan” menuju pencerahan batin, suatu jalan membina & mengubah diri, suatu kesempatan untuk saling memberkati, mengisi dan melengkapi sebagaimana seluruh alam semesta yg saling menopang.

Agama adalah suatu usaha manusia yg sakral untuk menggapai Tuhan,pertama-tama merupakan hubungan pribadi sakral manusia dengan Tuhan, hal kedua yg sama penting nya adalah Agama seharusnya mengajarkan manusia menjadi manusia,
Ada istilah yg bagus yakni : “sebelum lulus agama kita harus lulus dulu belajar jadi manusia” (belajar nilai-nilai kemanusiaan), menurut kamus besar bahasa indonesia, kata “human/manusia” punya 2 pengertian :

1. bersifat manusiawi (seperti manusia yang dibedakan dari binatang, jin, malaikat);

2. berperikemanusiaan (baik budi, luhur budi, dan sebagainya

 

Ketika ditanya oleh segolongan ahli agama bertanya manakah hukum yg terutama dari hukum agama mereka, Ia menjawab “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”(Matius 22:37-39)

Agama sejatinya didasari & dipahami dalam konteks manusia bagian dari alam semesta, manusia harusnya menjadi wakil dan wujud nyata dari Tuhan pencipta alam semesta di bumi, saya senang dengan istilah “imagodei” (menjadi gambar dan rupa Allah di dunia ini) yg mengasihi satu sama lain, ketika agama tidak dipahami dalam konteks cinta kasih, maka ayat-ayat suci agama “dipakai” sebagai pembenaran utk melampiaskan hawa nafsu duniawi utk berkuasa (berpolitik menjajah satu dengan yg lain), memiliki kekayaan/prosperity (ketamakan) sehingga seluruh alam (manusia dan segala makhluk) dieksploitasi untuk segolongan pribadi hingga merusak makhluk lain yg pada akhirnya menghancurkan manusia itu sendiri, betapa menyedihkannya, sesungguhnya “kiamat” memang sedang mendatangi manusia, kiamat yg dibuat manusia untuk dirinya sendiri, ketika seluruh ikan sdh ditangkap dan seluruh pohon sudah ditebang maka manusia baru menyadari ia tidak bisa hidup dgn makan kertas yg paling dicarinya dibumi walaupun bernilai Jutaan atau milyaran rupiah, kita tersentak ketika mendengar air bah dari gunung yg telah ditebang pohonnya oleh para oknum tertentu meluluhlantakan manusia dan segala kehidupan yg dilandanya baru-baru ini di sentani, jayapura

Alam semesta adalah satu kesatuan dimana manusia termasuk didalamnya, suatu mata rantai ekosistem siklus kehidupan seluruh makhluk saling terkait dan bergantung satu sama lain, manusia adalah kunci dari keseimbangan alam, sebagai makhluk yg paling tinggi akal budinya mengemban tugas mulia (mandat budaya) mengusahakan keseimbangan, keselarasan dan pemulihan alam, “Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan” (Roma 8:19)”, Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. (Roma 8:22)

Agama yg sejatinya menjadi Rahmat bagi seluruh manusia & alam sekarang telah “disabotase” menjadi ancaman mengerikan bagi kelompok lainnya yg berbeda dengan dia, semakin “taat” seorang pada agamanya, semakin mengerikan jadinya ia, sebab ia sanggup membunuh atau melakukan apapun atas nama agamanya/Tuhan nya. Sekarang manusia menjadi predator saling menghabisi satu sama lain, Homo sapiens menjadi Homo homini lupus (manusia memakan sesama manusia), krn menganggap yg lain primitif dan layak dijajah dan dikuasai bahkan diperdagangkan sebagai budak (jaman imperialisme Barat dan jaman perdagangan budak)

Semakin berjalan mengikuti master seperti saya menyadari betapa kecil dan tak berartinya saya dihadapanNya, saya tetap dalam iman saya tetapi saya tak lagi mengecap dan mengkotak-kotakkan manusia menurut golongan,suku, agama dll, bila ia bukan saudaramu seagama, sesuku, sewarna kulit, sesungguhnya ia tetap saudaramu dalam kemanusiaan

                  ( Refleksi atas peledakan Bom Srilanka/Senta Leo )

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *