Agama, Religiositas dan Spiritualitas

Agama, Religiositas dan Spiritualitas

Sejak kecil, saya sudah suka pada hal-hal spiritual. Saya aktif terlibat di dalam agama yang diberikan oleh orang tua saya. Saya juga belajar ajaran berbagai agama. Namun, ketika melihat ajaran berbagai agama, dan melihat perilaku nyata orang-orang beragama, saya suka bingung. Mengapa berbeda sekali?Ada agama yang mengajarkan damai dan kerukunan. Tapi, perilaku umatnya sangat agresif (penuh kekerasan), sombong dan menindas hak-hak asasi manusia. Ada agama yang mengajarkan kesederhanaan dan cinta. Namun, perilaku umatnya suka pamer kekayaan, dan manipulatif. Saya bingung. Dalam perjalanan, saya menemukan. Agama ternyata berbeda dengan religiositas, dan dengan spiritualitas. Inilah akar kemunafikan yang saya temukan dalam hidup sehari-hari. Apa perbedaan antara agama, religiositas dan spiritualitas?

Agama, Religiositas dan Spiritualitas

Pertama, agama adalah organisasi. Sebagaimana semua organisasi, pertarungan untuk memperebutkan kekuasaan pun terjadi. Ada uang bermain di dalamnya. Manipulasi dan intimidasi juga kerap terjadi.Di Indonesia, kita sudah kenyang dengan pengalaman semacam ini. Agama digunakan oleh para mafia untuk menciptakan perpecahan. Agama juga dikendarai oleh partai politik busuk untuk merebut kekuasaan secara tidak jujur. Pilkada Jakarta 2017 lalu, pemenjaraan Ahok serta beberapa kasus lainnya masih menyisakan trauma tentang bagaimana agama ditunggangi para mafia.

Kedua, religiositas adalah jantung hati agama. Ini menyangkut pengetahuan dan penghayatan seseorang pada agama tertentu. Orang yang religius berarti menghayati betul ajaran agamanya, dan menerapkannya secara sungguh di dalam hidup sehari-hari. Namun, ada masalah disini Orang yang religius masih terbatas pada ajaran agama tertentu. Ia masih menjadi manusia partikular. Pandangannya masih sempit, karena terpukau pada ajaran agama tertentu. Ia masih sektarian.

Ketiga, bentuk berikutnya adalah spiritualitas. Ia adalah pemahaman orang akan jati dirinya sejatinya, sebelum semua identitas sosial muncul. Menjadi manusia spiritual berarti menjadi manusia universal. Ajaran berbagai agama dipelajari, namun orang tidak terjebak di dalam salah satunya. Manusia spiritual adalah manusia semesta. Ia melihat dirinya sebagai warga semesta yang melintasi semua batas-batas buatan manusia (seperti negara, etnis, ras, dan agama). Moralitasnya bukan sekumpulan hukum yang tak lagi cocok dengan jaman, melainkan nurani. Baik dan buruk selalu menyesuaikan dengan keadaan disini dan saat ini. Manusia spiritual juga melihat alam sebagai bagian dari dirinya. Ia tak akan melakukan hal-hal yang merusak alam. Moralitas hijau (yang berpihak pada kelestarian biodiversitas kehidupan) selalu menjadi bagian dari nurani alamiahnya.

Identitas Seluas Semesta

Hidup seseorang amat tergantung pada cara pandangnya. Cara pandang seseorang amat tergantung pada identitasnya. Jika identitasnya sempit, maka cara pandangnya juga sempit. Hidupnya pun juga sempit. Sebaliknya, manusia spiritual adalah manusia semesta. Identitasnya seluas semesta. Cara pandangnya seluas semesta. Hidupnya pun, dengan demikian, seluas semesta. Kemunafikan terjadi, ketika orang hanya menjadi orang beragama. Ia tak paham dan tak menghayati ajaran agamanya. Hidupnya sempit dan korup. Ia hanya mengabdi kekuasaan buta, dan menggunakan agama untuk mencapai itu. Di Indonesia, menjadi manusia religius sebenarnya cukup. Orang sungguh menghayati ajaran agamanya dalam hidup sehari-hari. Namun, orang semacam ini belum menyentuh dimensi terdalam kehidupan. Spiritualitas sudah mengetuk, namun pintu belum dibuka olehnya. Di abad 21 ini, kita butuh manusia-manusia spiritual. Mereka harus menjadi pemimpin politik sekaligus ekonomi. Mereka harus menjadi tokoh masyarakat. Hanya dengan begitu, perdamaian di dunia yang semakin majemuk dan kompleks ini mungkin terwujud.

( Reza Watimena PhD, seorang Filsuf )

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *