Ahmad Basara : Pertemuan Megawati dengan Prabowo Silaturahmi sahabat Lama

Ahmad Basara : Pertemuan Megawati dengan Prabowo Silaturahmi sahabat Lama

Bertempat Neighbor Café Spot Menteng Jakarta Jumaat 2 Agustus 2019,Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia ( PNPS GMKI ) adakan Diskusi Politik tentang hiruk Pikuk Politik Pasca Pilpres 2019. Jika dalam Pemilu topiknya soal bagaimana saling menegasikan antar peserta pemilu dengan menghalalkan segala cara, kini beralih pada otak-atik kursi dan jual beli jabatan politik, baik kabinet maupun jabatan politik lainnya. Seiring dengan itu, ramai pula dibicarakan soal koalisi pendukung pemerintah Jokowi-Amin. Pasalnya, partai-partai pendukung Prabowo-Sandi pun kepingin masuk koalisi, yang tentu saja membuat “marah” partai-partai yang merasa sudah berlelah mendukung Jokowi-Amin dalam laga Pilpres kemarin. Apakah ini tanda bahwa partai koalisi pendukung Jokowi-Amin sudah retak alias pecah? Rentetan peristiwa politik pun silih berganti terjadi. Mulai dari pertemuan Jokowi-Prabowo di MRT, pertemuan 4 Ketua Umum Partai pendukung Jokowi-Amin – minus PDIP – di kantor Partai Nasdem, lalu silaturahmi “politik nasi goreng” Mega-Prabowo di kediaman Megawati, sampai pertemuan Surya Paloh dan Anies Baswedan yang berbuah “dukungan” pencalonan Nasdem terhadap Anies dalam Pemilu 2024 nanti, dll, dst.

 

Rangkaian peristiwa politik elit ini diyakini sebagian kalangan sebagai bagian dari manuver politik guna memperkuat posisi tawarnya dihadapan Presiden Terpilih guna mendapatkan jatah kursi kabinet dan jabatan politik lebih banyak dan strategis. Sebagian lagi melihat bahwa ini bagian dari upaya untuk memperkuat posisi politik dalam Pemilu 2024 nanti. Hiruk-pikuk politik elit ini, tentu menjadi tantangan baru atau “beban baru” bagi Jokowi-Amin, khususnya dalam merancang Kabinet dan koalisi ke depan. Jika tidak dikelola dengan baik, maka bisa saja menjadi boomerang bagi periode kedua pemerintahan Jokowi. Disamping itu, pertanyaan mendasar yang muncul adalah apa dan bagaimana implikasi hiruk-pikuk politik elit ini bagi pembangunan demokrasi bangsa ini? Apakah efeknya positif atau malah negatif? Apakah semua itu membuat rakyat makin cerdas dan pintar berdemokrasi atau malah makin membuat rakyat bodoh? Lalu, apa kepentingan semua itu bagi pembangunan bangsa ini ke depan? Atau jangan-jangan semua itu hanya sekadar “ramai-ramai” politik tanpa makna substansial bagi pembangunan bangsa sebagaimana yang selama ini sudah biasa terjadi? Bagaimana sebaiknya mendorong agar politik bangsa ini maju ke tahap yang lebih strategis .

 

Bagi Wakil Ketua MPR-RI  Ahmad Basara pertemuan Jokowi- Prabowo, Megawati – Prabowo adalah sesuatu yang diharapkan oleh masyarakat Indonesia agar tensi politik semakin kondusif, pertemuan tersebut adalah langkah yang tepat dalam rekonsiliasi dan jangan dilihat secara sempit.  Indonesia tidak menganut sistem oposisi. Sangat baik bila Jokowi bisa merangkul semua pihak. Presiden SBY dalam Pemilu 2004 merangkul yang berseberangan dengan Partai Demokrat, setelah Pilpres berakhir koalisi sudah dibubarkan, sebab tidak ada koalisi yang permanen. Tidak bisa juga kehadiran Prabowo ke kediaman Ibu Mega sebagai bentuk bagi-bagi kursi Menteri, sebab Menteri yang ditunjuk itu adalah wewenang Presiden. Pertemuan Megawati dengan Prabowo yang dikenal sebagai politik  ” Nasi goreng ” adalah ajang silaturahmi teman lama, jadi PDI P dan Gerindra adalah partai Nasionalis yang mempunyai banyak kesamaan. Silaturahmi adalah sesuatu yang diperintahkan Agama, dan bentuk Etika Politik walau PDI P dan Gerindra bersebrangan dalam Pilpres 2019 ungkap Ahmad Basara yang juga Wakil Sekertaris PDI Perjuangan ( Sapta )

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *