Baiq Nuril dan pudarnya Teladan Guru

Baiq Nuril dan pudarnya Teladan Guru

Baiq Nuril, mantan guru honorer di SMAN 7 Mataram dalam beberapa waktu terakhir menjadi sorotan. Walau sudah berhenti dari guru, namun berita tentang ibu Nuril masih hangat diperbincangkan. Hal ini tidak terlepas dari jerat hukum yang membelenggunya. Peristiwa itu bermula pada tahun 2012 saat masih menjadi guru di SMAN 7 Mataram, Nuril sering ditelepon oleh atasannya, Muslim. Karena sering ditelepon, Nuril diisukan memiliki hubungan gelap dengan pimpinannya. lalu merekam isi percakapan yang memang bernada asusila. Maksudnya hanya sebagai bukti untuk membela diri bahwa dia tidak menjalin hubungan terlarang sebagaimana diisukan. Lewat rekaman, Nuril mau membuktikan bahwa dia hanyalah korban dari nafsu pimpinanannya. Tanpa disadari, pada tahun 2014 rekaman tersebut disebar oleh temannya. Muslim lalu melaporkan Nuril ke polisi. Pada 24 Maret 2017 Nuril diberhentikan dari SMAN 7 Mataram dan ditahan polisi dengan tuduhan mentransmisikan rekaman percakapan mereka.

Pudarnya Teladan Guru

 Tidak membahas persaolan hukum yang menimpa Ibu Nuril apalagi menyoal putusan atasnya. Tentang hal ini banyak ahli sudah membahasnya. Lagi pula saya bukan ahli hukum. Saya mau menyoroti tindakan asusila secara verbal yang dilakukan Muslim kepada Ibu Nuril. UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mensyaratkan bahwa guru professional harus memiliki empat kompetensi. Salah satunya adalah kompetensi kepribadian. Dalam Permendikbud No.16 Tahun 2017, kompetensi kepribadia meliputi lima komponen pokok.

Pertama, bertindak sesuai norma agama, hukum, sosial dan kebudayaan nasional Indonesia; kedua, menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat; ketiga, menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa; empat, menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri; dan kelima menjunjung tinggi kode etik profesi guru. Tindakan asusila sebagaimana dilakukan Muslim terhadap Nuril menandakan hilangnya teladan moral dari guru. Percakapan bermuatan asusila adalah bukti bahwa teladan moral sebagaimana dipersyaratkan dalam kompetensi kepribadian telah absen dalam diri guru. Kasarnya keteladanan moral telah raib dalam diri guru. Hilang entah kemana. Tentu tidak semua guru hilang keteladanan moralnya. Masih banyak guru yang menjadi teladan kebaikan. Namun kasus ini patut menjadi refleksi karena peristiwa serupa ini sudah terjadi berulang kali. Kasus-kasus amoral tersebut tidak perlu dideretkan di sini. Cukuplah diingat bahwa tindakan asusila tersebut telah memudarkan pesona dan mencoreng wibawa guru dimata siswa maupun masyarakat.

Keteladanan guru diawali dari perkataan yang membias ke tindakan. Karena itu antara kata dan perbuatan harus seiring sejalan. Ya, perkataan guru mesti seirama dengan tindakannya. Keteladanan dalam tutur kata dan sikap hidup menjadikan guru mulia dan istimewa di mata masyarakat. Lewat keteladanan guru menjadi penjaga gawang moral bagi siswa dan masyarakat. Di era 4.0 ini yang ditandai dengan perkembangan teknologi, tidak terkecuali juga melanda dunia pendidikan. Digitalisasi pendidikan telah menjadikan arena belajar tidak tersekat ruang-ruang kelas. Tetapi itu tidak berarti bahwa kehadiran teknologi akan meniadakan peran guru. Kehadiran guru dalam proses pendidikan tetap dibutuhkan. Sosok pahlawan tanpa tanda jasa ini diperlukan untuk membentuk kepribadian anak yang berkarakter lewat keteladanan.

Ditengah perkembangan teknologi ini, guru tetap dibutuhkan melaksanakan tugas utamanya yaitu mengajar dan mendidik. Mengajar berkaitan dengan kompetensi professional dimana guru mentrasfer pengetahuan kepada siswa. Sementara mendidik berkaitan dengan kompetensi kepribadian dimana guru hadir sebagai pemberi teladan moral. Peran mengajar bisa diganti dengan teknologi tetapi tugas mendidik tidak dapat digantikan. Kehadiran guru sebagai pemberi teladan dan pembangkit inspirasi tidak terwakilkan sampai kapan pun. Akhirnya mari kita pahat pepatah Latin berikut, “Verba movent exempla trahunt.” Kata-kata menggerakkan namun teladan memikat. Ya, guru harus memberikan teladan yang baik tidak bagi tidak hanya bagi siswa tetapi juga masyarakat luas. Karena keteladanan adalah sumber kewibawaan guru. ( Geotime )

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *