Bedah Buku Duka dari Nduga potret kekerasan di Papua

Bedah Buku Duka dari Nduga potret kekerasan di Papua

Buku karya Kristin Samah ini, berkisah tentang seorang perempuan penyintas kekerasan seksual, yang secara tidak langsung berkaitan dengan peristiwa kekerasan, dan pembunuhan di Kabupaten Nduga, Papua, pada periode berbeda-beda. Duka dari Nduga adalah upaya Kristin untuk bisa menyampaikan potret terkini di Papua kepada masyarakat. Berbagai hal dia tuliskan apa adanya, dengan harapan dapat menciptakan keterbukaan untuk penyelesaian permasalahan yang terjadi di sana. Meski ditulis berdasarkan kisah nyata, beberapa nama sengaja disamarkan atas permintaan narasumber dengan pertimbangan keamanan.

“Apa yang terjadi di Papua adalah masalah kemanusiaan. Sebab itu, buku ini dipersembahkan untuk orang-orang yang bekerja demi memuliakan kemanusiaan. Penghormatan pada para awak pekerja kemanusiaan yang oleh sebab konflik, terpaksa menjadi korban kekerasan brutal. Melalui buku ini saya juga ingin mengetuk seluruh hati rakyat Indonesia untuk membangun solidaritas terhadap apa yang terjadi di Papua. Juga kepada kaum perempuan Indonesia,” ujarnya. Menurutnya, ada kisah pilu tentang kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang hanya bisa diselesaikan dengan duduk bersama, saling mendengar, saling mengakui, dan saling memaafkan sebagai sesama anak bangsa. Sudah pasti keras di awal, namun bila dilakukan terus-menerus, tidak ada hati yang tak luruh bila bahasa yang digunakan adalah cinta kasih.

Pdt Feri Haurissa Kakiay doa pembuka dalam bedah buku Duka dari Nduga

buku Duka dari Nduga mendapat apresiasi dari para narasumber diskusi, Anggota MRP Perwakilan Nduga Louis Maday, mantan Kapolres Jayawijaya William Ritonga, dan Eksekutif Amnesty Internasional Usman Hamid. “Semoga inspirasi buku ini melahirkan solidaritas-solidaritas yang mampu mengakhiri duka saudara-saudara kita di Nduga,” tandas Usman Hamid. Kristin Samah pernah menjadi wartawan di Suara Pembaruan, Suara Bangsa, dan Sinar Harapan. Pernah merintis Koran Perempuan bersama almarhum Tuti Gintini. Menjadi penggagas pendirian Komunitas Perempuan Berkebaya, mendirikan Gerakan Berbagi dan Peduli “Kebaya, Kopi, dan Buku. Kini menulis, mengajar, dan menjadi konsultan komunikasi. ( mrks/ spt )

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *