Budiman Sujatmiko gagal menuju ke Senayan

Budiman Sujatmiko gagal menuju ke Senayan

Caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Budiman Sudjatmiko dikabarkan tidak lolos ke Senayan menjadi anggota DPR, usai bertarung di daerah pemilihan (Dapil) Jawa Timur 7. Budiman kalah suara di dapil yang bersama putra Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Edi Baskoro.

Dapil pertarungan Budiman meliputi 7 kabupaten yang salah satunya terdiri dari Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Magetan dan Ngawi. Dapil yang disebut dapil neraka diisi kandidat yang punya ketokohan. Seperti  Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) (Partai Demokrat), Putri Ketua Umum Partai Perindo Harry Tanoe Sudibjo, Jessica Herliani Tanoesodibjo (Perindo) dan mantan jubir KPK Johan Budi (PDI-P).

Menanggapi kabar kekalahannya, mantan aktivis ini santai. Hal ini terlihat dalam cuitan akun Twitter @budimandjatmiko yang mengaku passionnya bukan lagi di DPR. “Saya tahu batas diri saya. Karena itu saya dulu minta izin Sekjen @PDI_Perjuangan untuk tidak mencalegkan lagi pd 2019 setelah pernah jd wakil rakyat 2 periode. Passion saya sudah ke yang lain. Mencari tantangan-tantangan baru dlm inovasi sosial & teknis #Revolusi4.0 :),” cuitnya.

 Karier Politik Budiman Sujatmiko

Sosok Budiman Sujatmiko adalah Anggota DPR yang cerdas dengan ide dan pemikirannya, kegagalanya di Parlemen semakin mengurangi kualitas anggota DPR kedepan, perjalanan karier Budiman Sujatmiko menjadi politisi dengan harga yang harus dibayar melalui perlawanan terhadap rezim Orde Baru. Budiman sempat mengenyam bangku perkuliahan di Fakultas Ekonomi Universitas Gajdah Mada (UGM). Bukan hanya sebagai seorang mahasiswa, Budiman juga terjun sebagai community organizer untuk melakukan pemberdayaan politik, organisasi, dan juga ekonomi yang menyasar kalangan petani dan buruh perkebunan di sekitar Jawa Tengah serta Jawa Timur. Dikarenakan kesibukannya ini pula, Budiman tidak sempat untuk menyelesaikan perkuliahannya.

Budiman  bersama intelektual dan aktivis muda lain mendeklarasikan  Partai Rakyat Demokratik (PRD) di tahun 1996. Budiman dipercaya menjadi ketua pertama partai politik berhaluan sosialis-demokrat yang memosisikan diri sebagai oposisi pemerintahan Orde Baru. Partai ini tidak memiliki wakil di parlemen dan lebih menunjukkan perjuangan politik secara ekstraparlementer,setelah melakukan deklarasi partai bentukannya ini, Budiman sempat divonis penjara selama 13 tahun karena dianggap sebagai dalang pada insiden 27 Juli 1996 yang disebut sebagai Sabtu Kelabu. Peristiwa Sabtu Kelabu ini merupakan penyerbuan kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Sejak saat itu, Budiman beserta pendiri PRD lainnya menjadi buronan pemerintah Orde Baru hingga akhirnya mengalami interograsi selama satu minggu. Masa penjara selama 13 tahun Budiman pun berakhir di tahun 1999 sejak diberikan amnesti oleh Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Usai bebas dari penjara, Budiman kembali ke bangku perkuliahan dengan mengenyam pendidikan ilmu politik di Universitas London dan juga Master Hubungan Internaional di Universitas Cambridge.

Selepas menyelesaikan perkuliahannya, Budiman bergabung dengan PDI-P di akhir tahun 2004. Bukan hanya menjadi kader, Budiman juga membentuk organisasi sayap partai, REPDEM (Relawan Perjuangan Demokrasi). Budiman melalui PDI Perjuangan meraih kursi DPR RI pada periode 2009-2014 dan kembali menduduki kursi DPR RI untuk periode 2014-2019.Kembali mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Timur VII namun kalah dan gagal menuju Senayan.

( Pewarta : Sabar )

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *