DI MANAKAH SUARA OIKUMENIS GEREJA BAGI PAPUA?

DI MANAKAH SUARA OIKUMENIS GEREJA BAGI PAPUA?

Tindakan rasisme yang terjadi di Surabaya terhadap mahasiswa dari Papua, akhirnya memicu respon dan protes massa orang Papua. Respon dan protes ini tidak bisa dilepaskan dari pengalaman panjang diskriminasi, kekerasan dan penyingkiran mereka dari tanahnya sendiri. Pendekatan keamanan, militeristik dan kekerasan yang mengarahkan moncong-moncong senapan aparat keamanan ke kota-kota, ke desa-desa hingga ke rumah-rumah penduduk adalah narasi-narasi kekerasan, yang hidup dan dihidupi oleh orang-orang Papua selama ini.

Foto : Kota Papua pasca aksi demo

Kini peristiwa yang dipicu dari Surabaya telah bergerak liar dan ditunggangi oleh berbagai kepentingan. Tanah dan orang Papua akan kembali masuk ke dalam narasi korban. Sementara pendekatan keamanan dan militeristik yang kemudian diambil oleh negara sudah pasti hanya akan melanggengkan dan memperpanjang narasi kekerasan. Lalu di manakah suara oikumenis gereja di tengah kekerasan demi kekerasan yang akan berlangsung di tanah dan terhadap orang Papua. Di manakah semangat oikumenisme yang dibangun di atas spirit satu tubuh bagi tanah dan orang Papua?

Demonstarasi masyarakat Papua

Sudah saatnya suara oikoumenis disuarakan dengan lantang dan tegas bagi siapa saja, dan berusaha menghentikan langkah-langkah yang menjadikan tanah Papua arena kekerasan yang hanya akan menambah jumlah korban. Itulah panggilan gereja-gereja yang melayani Tuhan Kehidupan di Indonesia.

(Penrad Siagian)

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *