Dusun Buddhis Takelan di Lereng Gunung Merbabu

Dusun Buddhis Takelan  di Lereng Gunung Merbabu

Pasca keruntuhan Majapahit, agama Buddha seakan hilang dari bumi Nusantara. Hingga akhirnya tahun 1965, agama Buddha mulai berkembang lagi di berbagai daerah di Indonesia, terutama di pelosok-pelosok pegunungan. Tekelan misalnya, sebuah dusun di lereng Gunung Merbabu adalah salah satu daerah pegunungan yang mayoritas beragama Buddha.

Secara administratif, Tekelan merupakan salah satu dari 19 dusun yang berada di Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Tekelan merupakan desa terakhir sekaligus base camp untuk menuju puncak Merbabu yang membutuhkan waktu selama kira-kira 8 jam. Daerah ini berada di ketinggian 1596 mdpl dan bersuhu rata-rata 15-20° C. Dari 19 dusun di Desa Batur, umat Buddha hanya terdapat di Dusun Tekelan.

Sejarah Perkembangan Agama Buddha Tekelan
Agama Buddha mulai berkembang di Tekelan sejak tahun 1970-an. Jauh sebelum mengenal agama, masyarakat Tekelan menganut kepercayaan Kejawen sebagai jalan spiritual, hingga tahun 1965 ketika pemerintah mewajibkan setiap orang beragama, masyarakat Tekelan berbondon-bondong memilih salah satu dari lima agama yang diakui oleh pemerintah.

Pada tahun 1970, ketika para tokoh masyarakat Tekelan menemukan ajaran Buddha, hampir semua penduduk Tekelan masuk ke agama Buddha. “Pada tahun 1970, Mbah Niti, seorang tokoh spiritual dari Dusun Tolokan, Desa Tolokan, Kecamatan Getasan mengatakan kepada masyarakat Tekelan, bahwa Buddha merupakan agama yang paling aman dan sesuai filsafat orang Jawa. Ketika itu pula tokoh-tokoh masyarakat Tekelan masuk agama Buddha yang diikuti hampir semua masyarakat Tekelan,” jelas Tugiman kepada BuddhaZine.

Berkembangnya agama Buddha di Dusun Tekelan kemudian disambut baik oleh pembina agama Buddha dari berbagai wilayah di Salatiga. Hampir seminggu sekali pada awal perkembangannya, Romo Gondo dan Kustono dari Salatiga melakukan pembinaan di Tekelan, dari mengajari baca parita sampai memberikan ajaran Dhamma sebisa mereka.

Meskipun puja bakti dilakukan dari rumah ke rumah umat, dengan semangat gigih para pendiri, membuat agama Buddha berkembang sangat pesat saat itu. “Dengan bimbingan Romo Gondo dan Pak Kastono dan di bawah binaan Pak Karto Taruno dari dusun setempat, umat Buddha kemudian berkembang sangat pesat. Hampir 90% dari 179 kepala keluarga saat itu beragama Buddha,” tambah ayah dua anak ini.

Membangun Sarana Puja Bakti
Dengan perkembangan umat Buddha, vihara sebagai tempat ibadah umat Buddha menjadi penting sebagai pusat aktivitas. Oleh sebab itu, pada tahun 1980-an, Mbah Karto Taruno mengajak umat Buddha membangun vihara.

Rencana pembangunan vihara ini pun disambut baik oleh umat, dengan iuran rabuk kandang (pupuk kandang), kerja bakti menanam di bengkok lurah (sebidang tanah yang diperuntukkan bagi pejabat desa/lurah untuk ditanami selama menjabat), dan hibah tanah dari Mbah Karto Taruno. Seluruh masyarakat dusun melakukan kerja bakti untuk mendirikan vihara.

Tahun 1985, vihara sudah diresmikan dengan diberi nama Vihara Buddha Bumika. “Pada saat peresmian vihara, sebanyak 27 bhikkhu hadir di Tekelan. Ini merupakan sejarah baru umat Buddha Tekelan yang didatangi bhikkhu sebanyak itu. Artinya pada tahun 1970-an umat Buddha Tekelan sudah mendapat perhatian dari sangha,” ujar Tugiman.

Setelah peresmian vihara, pembinaan umat Buddha Tekelan mulai terorganisir dengan baik. Pembinaan dari sangha sudah mulai ada secara berkala, begitu juga dengan organisasi-organisasi Buddhis, seperti Buddhist Fellowship Indonesia (BFI) yang memberikan beasiswa pendidikan. Meskipun dalam perjalanan waktu secara kuantitas umat Buddha berkurang, namun secara kualitas dan pendidikan umat Buddha Tekelan saat ini sudah baik.

“Dengan peran berbagai pihak, termasuk BFI, saat ini umat pemuda Buddhis Tekelan sudah banyak yang mengenyam pendidikan tinggi, bahkan banyak yang telah lulus sarjana,” Tugiman melanjutkan.

Memegang Teguh Tradisi dan Budaya
Saat ini memang masyarakat Tekelan sudah memeluk agama, setidaknya ada empat agama yang diyakini oleh masyarakat yang sebagian besar berpenghidupan sebagai petani sayur ini. Namun meskipun mereka sudah beragama, bukan berarti meninggalkan tradisi dan budaya leluhur. Menurut Tugiman, meskipun masyarakat telah memeluk berbagai agama, namun agama bukan menjadi yang utama bagi masyarakat Tekelan. “Agama tidak menjadi yang utama, tetapi menjalankan dan memelihara budaya leluhur masih menjadi yang paling utama. Dan ini menariknya agama Buddha, ajarannya bisa menyatu dengan tradisi dan budaya leluhur,” jelasnya.

20160923-tekelan-dusun-buddhis-di-lereng-gunung-merbabu-3

“Sebelum mengenal agama, masyarakat sudah mengenal tradisi budaya. Contohnya jika orang mengandung. Dalam kandungan, anak sudah diadakan berbagai upacara, seperti tiga bulanan, tujuh bulan kandungan. Itu kan tidak dari agama, tetapi dari budaya yang turun-temurun.” Tugiman memberikan beberapa contoh budaya yang masih dijalankan masyarakat Tekelan secara turun-menurun hingga saat ini, “Ada Saparan yang dilakukan setiap Rabu pahing di bulan Sapar mengadakan sedekah bumi. Ini wajib dilakukan oleh agama apa pun. Di hari raya Bakdo (Idul Fitri), sebenarnya kita dulu sebelum mengenal sebagai hari raya agama Islam, masyarakat Tekelan sudah merayakan hari raya Bakdo.”

“Gombak atau tradisi potong rambut gimbal misalnya, hingga saat ini masih dijalankan. Saya sendiri dulu pernah berpikir, sebagai orang modern ketika anak saya lahir langsung saya potong rambutnya. Setelah itu sakit-sakitan terus. Ketika saya bawa ke dokter, tidak ada penyakitnya. Kemudian kepalanya seperti ada lempengan logam. Ini aneh menurut saya. Kemudian rambut anak saya, saya biarkan panjang. Setelah umur tujuh tahun baru saya potong. Lempengan logam itu hilang, dan anak saya sehat terus,” tutup Tugiman.

( Buddha Zine )

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *