Gereja POUK Imanuel Kopassus berpartisipasi dalam Kegiatan Idul Adha

Gereja POUK Imanuel Kopassus berpartisipasi dalam Kegiatan Idul Adha

Hari Raya Idul Adha tahun 2019 bertepatan jatuh pada hari Minggu dimana umat Kristiani juga mengadakan Ibadah raya (Misa) Bagi Gereja POUK (Persekutuan Oikoumene Umat Kristen) Imanuel Kopassus Cijantung  Perayaan Idul Adha dimana Pendeta, Majelis, Pemuda dan Jemaat  berpartisipasi di pagi hari sebelum ibadah minggu membantu menggelar tikar, membersihkan lapangan yang akan digunakan Umat Islam yang akan Sholat Idul Adha. Partisipasi ini adalah bagian wujud  toleransi sebagai anak Bangsa untuk saling menghormati antar umat beragama yang berbhineka Tunggal Ika.

Pemuda Gereja POUK Imanuel Kopassus berpartisipasi dalam Idul Adha sebagai bentuk toleransi.

Perayaan Idul Adha yang diawali dengan Sholat Idul Adha  dan dilanjutkan pemotongan hewan kurban, hakikat kurban adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Karena itu, makna qurban dalam pengertian Islam adalah bentuk pendekatan diri  kepada Allah melalui hewan ternak yang dikurbankan atau disembelih.Dengan begitu merelakan sebagian harta yang sebetulnya milik Allah untuk orang lain. Ini menjadi bagian dari ketaatan kepada Allah. Syaratnya, dalam kurban harus benar-benar untuk mencari ridha Allah, bukan untuk yang lain. Inilah hakikat qurban dalam Islam yang sebenarnya.

Majelis dan Jemaat Gereja POUK Imanuel Kopassus membantu mempersiapkan tikar dan karpet untuk Umat Islam Sholat Idul Adha

Menurut Pdt Albertus Patty Pendeta Gereja Kristen Indonesia ( GKI ) dan salah satu Ketua PGI yang juga aktifis lintas Iman dalam rilisnya tentang memaknai Idul Adha : Aspek terpenting dalam peristiwa Idul Adha bukan siapa yang menjadi korban persembahan kepada Allah. Aspek  substansi pesan kemanusiaan yang luar biasa,mulai hari itu tidak boleh lagi ada manusia yang dikorbankan sebagai persembahan untuk memuliakan Allah. Tidak boleh lagi ada kekerasan terhadap manusia atas nama Allah. Atas perintah Allah, sejak saat itu korban kepadaNya bukan lagi sesama manusia tetapi hewan domba, sapi, dst. Korban hewan yang telah dipotong harus dibagikan kepada sesama, terutama kaum fakir miskin yang membutuhkan.Peristiwa itu menggeser total paradigma Idul Adha: dari mengorbankan manusia untuk Allah menjadi mempersatukan sesama manusia demi Allah melalui aksi saling berbagi. Spirit Idul Adha adalah spirit saling berbagi dan terutama semangat untuk mengangkat manusia pada kemanusiaannya. Dalam aksi kemanusiaan itu egoisme dipinggirkan. Ketamakan disingkirka untuk melayani kebaikan sesama. ( Sabar )

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *