Hoax perilaku manusia yang paling purbawi

Hoax perilaku manusia yang paling purbawi

Hoax adalah berita palsu yang sengaja dibuat dan disebar luaskan untuk menimbulkan ketakutan atau kehebohan. Terdapat pula hoax yang dibuat untuk menipu publik. Hoax-hoax ini jika sebelumnya banyak disebar lewat SMS dan email, kini mulai berpindah ke pesan aplikasi chatting seperti WhatsApp .Meski dari awal sudah terdengar mencurigakan kabar itu, masih banyak saja yang kerap tertipu hoax di dunia maya. Ironisnya, walaupun terdengar sepele, hoax dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi netizen.

Dalam kegiatan Rabu satu di Media Center Jokowi-Amin diadakan diskusi  mengenai bahayanya Hoax, menurut penggagas Rabu Satu Irwanda Syarif Hamdani bahwa diadakan diskusi mengenai Hoax karena Hoax sangatlah berbahaya bisa memecah kebersamaan dan persatuan bangsa.

Hal senada di sampaikan oleh narasumber dari PDI Perjuangan Budiman Sujatmiko, bahwa semburan dusta politik menyasar kapasitas rasional dan etika otak manusia. Memicu perilaku manusia yang paling purbawi, yakni insting survival.

Di era disruptive technology seperti saat ini, ujar Budiman, wajah kehidupan ekonomi dan sosial telah berubah drastis. Era disruptive memberikan kesempatan kepada mereka yang pintar membaca peluang dan memiliki skill set yang tepat untuk menjadi kaya. Juga, di sisi lain, menciptakan keresahan bagi mereka yang tidak ter-update perkembangan zaman.

“Kok bisa anak penjaga wartel jadi bos e-commerce besar. Anak muda jadi bos. Hidupku rentan. Insting survival mereka terpicu. Celakanya ini yang disasar hoax politik,” ujar Budiman.

Disebutkan bahwa dalam penelitian Cambridge tahun 2016, terhadap lebih dari 30 negara yang akan melaksanakan pemilu, orang Indonesia tidak memiliki permasalahan di bidang politik yang signifikan. Justru orang Indonesia lebih banyak merespons hal-hal sederhana yang mereka tidak sukai, seperti film dan olah raga. Sayangnya, lanjut Budiman, bagian otak yang merespons hal-hal sederhana tadi, merupakan bagian yang sama dalam merespons hoax politik.

“Dengan jumlah hoax yang masif pada akhirnya retorika politik murahan memainkan emosi. Orang tersebut menjadi emosional menyikapi perubahan, termasuk perubahan yang positif,” katanya. Menurut Budiman, orang perkotaan yang individual lebih mudah terpapar hoax karena tidak memiliki jaring pengaman sosial yang kuat. Sebaliknya, masyarakat desa yang hidup kolektif memiliki tingkat resiliensi yang tinggi terhadap hoax.

Pewarta : Sabar

 

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *