IMAN YANG DISALAHPAHAMI

IMAN YANG DISALAHPAHAMI

“Salah Paham” adalah kondisi yang sering terjadi di sekitar kita, bahkan di lingkungan “agama”, salah paham telah menjadi “trending topic” di berbagai media sosial, dan mungkin juga di masyarakat, tempat kita berada. Salah paham ini bisa menjurus kepada situasi yang ‘chaos’, dan konflik berdarah-darah. Akibatnya, suara-suara sumbang dan celoteh-celoteh jalanan dapat menjadi alat untuk membesar-besarkan kesalahpahaman tadi, apalagi jika kesalahpahaman itu terkait dengan iman Kristen. Mualaf yang mulutnya kotor (saya temukan dalam bukunya), yaitu Muhammad Yahya Waloni, adalah seorang yang mengatakan bahwa Rasul Paulus masuk neraka. Tentu perkataan tersebut sama sekali tidak berdasar. Omong kosong ini, entah dia dapat dari mana, sampai ia berani menuliskan di dalam bukunya. Dari semua isi buku Waloni, hampir 100 persen salah paham, bahkan salah total.

Kesalahannya menggaungkan iman Kristen yang dikiranya “benar” menurut pemahamannya ternyata ketika diuji secara ilmiah, mengandung kebohongan-kebohongan yang dirancang untuk memperbesar omong kosong dan kesalahpahamannya tentang iman Kristen, baik Kristologi, Alkitab, nubuatan Mesias yang dikaitkan dengan Muhammad, dan masih banyak lagi. Ia pun mengajukan pernyataan yang kurang lebih sama dengan para mualaf lainnya: “Yesus itu bukan Tuhan. Ia hanyalah utusan Allah.” Pernyataan tersebut memang benar, tetapi tidak secara komprehensif dipahami, baik berdasarkan historis, logis, dan dogmatis. Untuk menjawab pernyataan tersebut, saya memulai dengan menilainya berdasarkan pada “cara memahami”.

Pertama, Pernyataan “Yesus itu bukan Tuhan. Ia hanyalah utusan Allah” dipahami secara fragmentaris oleh para mualaf. Saya memakluminya. Kedua, para mualaf menganggap bahwa Allah yang mengutus Yesus adalah “Allah” yang sama dengan “Allah” Islam. Ketiga, para mualaf akan selalu memahami secara fragmentaris dan tidak membuka peluang bagi proses atau cara memahami secara komprehensif berdasarkan konteks hermeneutika Alkitab yang kredibel, dengan mengikuti rambu-rambu penafsirannya.

Ustadz yang reaksioner

Bagi mereka, Yesus diutus Allah. Itu saja. Padahal, cara memahaminya tidak demikian. Saya memakluminya. Namanya juga mualaf, ya, pasti tidak mau membuka pikiran dalam konteks cara memahami Yesus secara komprehensif berdasarkan Alkitab. Karena ini berbicara mengenai historisitas, maka ada korelasi yang dapat dipahami, meski kita tahu ada jurang pemisah antara pemahaman Islam dengan pemahaman Kristen mengenai pribadi Yesus.  Para mualaf mengira bahwa jika Yesus utusan Allah maka Ia adalah Rasul. Pola ini diadopsi dari konsep quranik. Menurut Kristen, Yesus bukan Rasul. Tidak ada rumusan dalam Alkitab bahwa Yesus adalah Rasul. Yesus itu berbeda dengan apa yang dipikirkan para mualaf. Pola pikir quranik tidak bisa dipakai untuk mengukur pola pikir biblikal karena keduanya memiliki perbedaan yang fundamental, baik iman, doktrin, dan historis.

Untuk memperteguh klaim mereka bahwa Yesus adalah utusan, maka mereka menyuguhkan sederet ayat Alkitab, terutama dalam Injil Yohanes. Anehnya, tak satupun yang memahami konteksnya. Ini kelemahan yang sangat mendasar. Padahal, sejak prolog Injilnya, Rasul Yohanes menuliskan: “Firman menjadi daging [manusia; Yun. sarks]” (Yoh. 1:14). Yesus adalah Logos Allah yang berdiam sejak kekal. Jadi, seluruh Injil Yohanes yang berbicara mengenai natur kemanusiaan Yesus, termasuk Ia diutus Bapa-Nya, Ia tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Nya jika Bapa tidak mengaruniakannya, TETAP DAN HARUS melihat pada pasal 1 (prolog Injil Yohanes). Memisahkan tulang dari daging menjadikan tubuh manusia lemah tak berdaya, dan tak bisa berbuat apa-apa. Ini cara-cara yang sama sekali “salah” sebagaimana yang dilakukan oleh Yahya Waloni, Irena Handono, dan lainnya. Ilmu “comotologi” atau ilmu mencomot-comot ayat-ayat Alkitab tanpa memahami konteksnya adalah kelihaian para mualaf secara mayoritas. Karena lihai menampilkan ilmu “comotologi”, maka mereka asyik dan puas mengajukan dalil bahwa memang Yesus adalah utusan, Ia bukan Tuhan, dan masih banyak lagi. Sayangnya, impotensi kehendak berimbas kepada impotensi logika mereka yang tidak mau memahami teks dan konteks secara utuh. Model tafsir comotologi sudah membudaya di kalangan mualaf, termasuk mualaf “abal-abal” (dari aspek ilmu dan kajian Kristologi) yaitu Yahya Waloni.

Kondisi psikologi “IGNORANCE IS SATISFACTION” (kebodohan adalah kepuasan) para mualaf ini tidak tanggung-tanggung ditampilkan. Yahya Waloni, mantan pendeta yang mulutnya penuh ucapan-ucapan kotor dan omong kosong, merasa puas dengan kebodohannya sendiri mengenai salah pahamnya tentang iman Kristen. Yang ada hanyalah bualan-bualan tanpa dasar sama sekali. Tentunya, Waloni cs, menganggap sudah tahu segalanya tentang iman Kristen, terutama soal Kristologi, kian merasakan diri mereka berada di atas angin buatan sendiri. Berbagai celoteh para mualaf yang terlampau luar biasa, maksudnya luar biasa “ngalor ngidulnya” cukup membuat riuh suasana di Nusantara. Kebebasan berpendapat menjadi tidak terbendung. Padahal, kebebasan berpendapat yang seperti apa yang dijunjung tinggi, menjadi pertanyaan mendasar kita.

Dalam dunia penelitian ilmiah, siapa saja yang menyodorkan gagasan mengenai iman Kristen, itu sah-sah saja, tetapi harus dibarengi dengan ulasan, kajian, kritik, sumber, metodologi, pendekatan, dan hal lain yang dapat menunjang penelitian itu sendiri. Sebaliknya, setiap respons atau sanggahan (apologetis) atas ulasan mengenai iman Kristen, bernatur sama. Hal ini dipandang biasa dalam dunia akademis. Mengingat ada orang-orang tertentu yang mudah salah paham dengan iman Kristen, maka sedapat mungkin para rohaniwan, pendeta, pastor, pemerhati teologi, haruslah bergerak untuk memberikan respons atau kajian yang mengarahkan siapa saja yang membaca atau melihatnya, mendapatkan pengajaran yang benar tentang iman Kristen yang biblikal. Meresponsnya bukan dengan cara membabi buta, melainkan dengan cara yang akademis, tajam, dan solid. Memberikan respons bukan berarti kita tersinggung, tetapi lebih bersifat mengklarifikasi berbagai bentuk kesalahpahaman orang lain tentang iman Kristen. Suara-suara kebenaran adalah suara-suara klarifikasi. Mereka yang tergerak berbagi berkat dengan sesama dalam konteks “memberikan respons terhadap kesalahpahaman orang lain tentang iman Kristen”, adalah orang-orang yang berniat untuk berbagi, ketimbang “pelit ilmu”. Daripada ilmu dipendam dan dinikmati sendiri (bermasturbasi teologis), lebih baik berbondong-bondong berbagi berkat melalui tulisan apologetis, klarifikatif, dogmatis, historis, dan logis.

Suasana makin memanas karena isu-isu agama mudah digoreng dengan minyak pelumas. Orang Kristen pun tidak boleh tinggal diam. Ia harus menyadari bahwa dirinya dipanggil untuk menyatakan kebenaran, ketimbang diam dan merasa puas sendiri. Kita dipanggil untuk berbicara—tentunya dengan berbagai cara—apalagi ditunjang dengan berbagai media sosial yang marak digunakan oleh masyarakat secara luas. Salah paham iman Kristen akan tetap ada dan terus berkembang. Apakah kita tetap tinggal diam? Mungkin ada yang mengatakan: “Ah, itu tidak penting”, dan saya harus katakan: “WOW GITU?” Sebaiknya potensi yang Tuhan berikan kepada kita, disalurkan untuk memberikan pengarahan, pemahaman, klarifikasi, penjelasan, penerangan, dan konfirmasi mengenai isu-isu iman Kristen yang digoreng sedemikian rupa, apalagi panci dan minyaknya berada di tangan para mualaf yang tidak jujur secara akademis, semisal Yahya Waloni, Irena Handono, dan lainnya.

Silakan saja mengkritisi iman Kristen, tetapi jangan “asal bunyi” dan “salah paham”. Gunakan akal sehat, dan bukan mulut penuh caci maki; gunakan kajian ilmiah dan bukan “ngalor ngidul disoraki”. Iman Kristen adalah iman yang didasari pada pemahaman bahwa Allah yang mengasihi manusia berdosa, dan Ia menetapkan bagaimana caranya agar manusia diselamatkan, dibenarkan, dikuduskan, diampuni, dan ditebus. Tak ada manusia yang cukup kuat,

cukup iman, cukup umur, dan cukup uang (harta kekayaan) yang dapat melepaskannya dari jerat dosa dan kejahatan. Hanya Allah saja yang sanggup melakukannya, dan Yesus Kristus adalah perwujudan kasih Allah yang begitu besar, yang menebus, mengampuni, membenarkan, mendamaikan, dan menyelamatkan manusia dari kuasa dosa dan kuasa maut. Itulah inti iman Kristen. Lihatlah pada Allah yang mengasihi manusia; lihatlah pada Allah yang menyelamatkan, mengampuni, dan menebus manusia; lihatlah pada Allah yang peduli dengan moralitas umat-Nya; lihatlah pada Allah yang mengarahkan manusia untuk hidup kudus. Ketika ada Allah yang telah berbuat demikian, maka ikutilah Dia. Dan Kristen telah melihat semuanya itu. Allah yang penuh kasih, mengaruniakan anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya (yaitu Yesus Kristus), tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yang tidak paham secara utuh soal iman Kristen, tidak perlu kebakaran jenggot, apalagi mewartakan “salah paham” Yesus Kristus. Yahya Waloni dan lainnya boleh saja mengkritik iman Kristen, asalkan dengan cara-cara akademis, bukan dengan cara memaki, menyebarkan kebohongan dan memalsukan dokumen historis.Tuhan kiranya memberkati pelayanan kita di segala bidang kehidupan. Dan wartakanlah kebenaran Alkitab selagi masih ada kesempatan. Selamat berpikir, dan selamat beragama secara dewasa.( Stenly Paparang )

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *