JIN KAFIR DI MULUT PARA PENCACI YESUS

JIN KAFIR DI MULUT PARA PENCACI YESUS

Frasa “jin kafir” keluar dari seorang “public figure” (tokoh masyarakat) Islam, Abdul Somad. Video yang berdurasi pendek, seketika menjadi viral di berbagai media sosial. Lalu, berbagai respons muncul. Ada yang membuat tanggapan, termasuk teman-teman saya; ada yang memosting ayat-ayat tentan salib, tentang gambar salib, tentang drakula yang takut dengan salib, gereja-gereja yang ada salibnya, dan sederet komentar dan pernyataan tentang salib Yesus. Ketika saya melihat video tersebut, yang saya pahami adalah gestikulasi Bang Somad, terkesan “meremehkan” salib, terkesan merendahkan salib. Tak jadi soal mengenai apa yang saya pahami terhadap gaya komunikasi Bang Somad, tetapi jika mau fair, Bang Somad juga perlu merenung bahwa standar ganda bisa digunakan untuk membuat lelucon seputar iman Islamnya Bang Somad. Jangan berpikir bahwa Kristen tidak memiliki sejumlah potensi untuk mendengungkan kegagalan pemahaman logika Bang Somad mengenai salib.

Ustad Somad

Dengan gaya “mayoritas” seperti yang dilakukan Bang Somad, tentu menimbulkan berbagai respons baik positif (para pendengarnya jangan ikut tertawa, meski saya menduga tidak semua yang mendengar celoteh Bang Somad, seteju dengan beliau) maupun negatif (respons dari internal Islam dan respons dari Kristen). Dari segi logika dan pengetahuan, Bang Somad sama sekali tidak memahami makna dan sejarah salib Yesus. Saya tahu, bahwa Bang Somad sendiri menolak peristiwa penyaliban Yesus, di mana Yesus tidak disalibkan melainkan ada orang yang diserupakan Allah SWT mirip Yesus. Tapi itu hanya soal keyakinan dogmatis saja. Masing-masing meyakini soal salib. Namanya juga keyakinan; ya, harus yakin dong. Bukan begitu Bang Somad?

Ucapan-ucapan Bang Somad mengenai di salib ada jin kafir, sama sekali diucapkan “tanpa pengetahuan apa-apa” mengenai makna dan kuasa salib. Bahkan, tidak ada kontribusi pengetahuan doktrinal di dalamnya. Saya menyebut itu sebagai celoteh sentimen agama yang Anda rasakan sebagai “salah” di pihak Kristen karena percaya pada Yesus yang disalib, dan sebagai benar “di pihak Anda” karena merasa bahwa di dalam salib Kristen ada jin kafir (karena Kristen dicap sebagai kafir. Bukan begitu Bang Somad?). Untuk kepentingan penjelasan seperlunya dari saya karena celoteh-celoteh Bang Somad tidak memiliki bobot apa-apa—hanya soal ketidaktahuannya mengenai salib—maka saya memakluminya, dan memberikan beberapa catatan.

Ustad Somad saat ceramah

Pertama, Bang Somad, apa yang Anda ucapkan bukanlah sebuah pengetahuan yang benar tentang salib. Anda hanya menggaungkan prinsip tidak logis tentang salib. Pengetahuan Anda sangat dangkal. Saya memaklumnya. Konsekuensi logis dari apa yang Anda lakukan, adalah bahwa jangan Anda berpikir bahwa Kristen tidak memiliki alasan untuk melontarkan celoteh-celoteh tentang anda dan iman yang anda Imani. Kami bisa menggunakan standar ganda di sini. Tetapi untuk apa? Memperkeruh suasana? Tentu tidak! Jika anda tertario mengkritisi iman Kristen, sila pakai sumber dan data historis, bukan modal celoteh.

Kedua, Bang Somad, apa yang Anda sampaikan kepada para pendengarmu adalah “benar” menurut keyakinan dogmatismu, dan “salah” menurut makna substansial dari salib yang diimani Kristen. Jika demikian, sebaiknya—jika Anda ingin mengkritisi makna dan historisitas salib, maka ruang akademis menjadi ruang bagi Anda untuk memulai penelitian, pencarian sumber rujukan, dan menghasilkan kritikal yang kredibel, otentik, dan akuntabel.

Ketiga, Bang Somad, kalau merasa mayoritas, jangan sesuka hati menebar pemahaman yang salah tentang iman Kristen. Bukan berarti minoritas tidak dapat berbuat apa-apa untuk melakukan standar yang sama. Tetapi karena alasan sensitivisme agama di negara Indonesia sangatlah tinggi, maka sedapat mungkin celoteh-celoteh yang tidak penting, diredam. Jika berbicara dalam ranah akademis (ilmiah), maka sah-sah saja mengkritisi iman Kristen, tetapi harus ditempuh dengan jalur akademis pula, bukan dengan modal celoteh jalanan, demo, persekusi, dan lain sebagainya.

Keempat, Bang Somad, ruang pengetahuan tentang iman Kristen terbuka lebar dan seluas-luasnya. Anda tidak perlu takut karena kekurangan sumber. Dibutuhkan hanyalah niat untuk melakukan penelitian ilmiah (akademis), ketimbang Anda membodohi para pendengar Anda dengan celoteh-celoteh (yang bukan pengetahuan akademis). Jika Anda tertarik untuk mendalami makna salib, apakah ada jin kafir di dalamnya, sila melakukan penelitian ilmiah soal itu. Pintu terbuka lebar untuk Anda, dan bahkan bagi para pendengar celoteh Anda. Eh, ngomong-ngomong, Bang Somad tahu dari mana ada jin kafir di salib? Apakah Anda bisa melihat jin?

Kelima, Bang Somad, dalam pemahaman Kristen, salib memang adalah tanda kebodohan, tetapi kebodohan bagi mereka yang akan binasa. Salib adalah tanda bahwa Allah mengasihi manusia berdosa dan mendamaikan mereka melalui Yesus Kristus yang disalibkan. Tidak mudah bagi Anda untuk memahami makna salib dan keselamatan dari perspektif iman Kristen. Keselamatan yang diyakini Kristen bukanlah keselamatan yang tanpa sejarah, tanpa ketentua; bukan pula keselamatan yang muncul tiba-tiba tanpa dasar bagaimana Allah ingin manusia diselamatkan dari belenggu dosa; bukan pula keselamatan yang muncul dari seorang malaikat dan berkata ini dan itu. Keselamatan yang dipahami Kristen adalah berangkat dari kejatuhan manusia dalam dosa dan manusia, dengan segala potensinya, tidak dapat membereskan dosa-dosa mereka. Hanya Allah yang dapat membereskannya. Jika Anda memasuki ranah doktrin keselamatan, seumur hidup Anda tidak cukup untuk mempelajarinya.

Keenam, Bang Somad, semua celoteh yang pernah Anda sampaikan kepada siapa pun, tidaklah memberikan kontribusi akademis apa-apa. Jika para pendengarmu bukanlah orang-orang yang berpikir kritis dan akademis, maka saya takut, mereka akan menjadi tersesat sedemikian jauh, ketika Anda, dengan lantangnya merendahkan iman Kristen. Atau barangkali, ketika Anda mengatakan bahwa di salib ada jin kafir, sebenarnya Anda sedang mencaci iman [salib] Kristen? Hanya Anda dan jin kafir yang tahu soal itu. Tetapi, jika saya dimintai tanggapan, saya hanya akan menanyakan begini: “Dari cara Anda menjawab dan gerak tubuh Anda (gestikulasi), bukankah terlihat sepertinya Anda meremehkan salib dengan cara memperagakannya pula?

Ketujuh, Bang Somad, Kristen itu adalah pabrik pembuat kacamata. Jika Anda mau memahami iman Kristen yang begitu besar itu, Anda harus menggunakan kacamata yang sesuai dengan konteksnya. Sayangnya, kemarin, waktu Anda mengatakan bahwa di salib ada jin kafir, Anda salah pakai kacamata. Jika ingin memahami salib, pergilah ke pabrik pembuat kacamata. Dijamin, Anda tidak akan tersesat seperti sekarang ini ketika Anda berbicara mengenai iman Kristen.Dari beberapa catatan respons saya terhadap celoteh Bang Somad, maka pertanyaan saya: “Apakah celoteh bahwa ‘di salib ada jin kafir’, hanya ada dan keluar dari mulut para pencari Yesus? Selamat merenung. ( Stenly paparang )

 

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *