KEBANGKITAN DARI KEMATIAN Konsistensi Logis Ucapan Yesus

KEBANGKITAN DARI KEMATIAN Konsistensi Logis Ucapan Yesus

Kebangkitan adalah fakta yang tidak terpisahkan dengan kematian Yesus pada peristiwa penyaliban. Yesus telah menubuatkan penderitaan dan kematian-Nya, bahkan kebangkitan-Nya, kepada para murid-Nya sebagaimana tercatat dalam teks Matius 16:21 (nubuat pertama), Matius 17:22-23 (nubuat kedua), dan Matius 20:17-19 (nubuat ketiga). Konsistensi logis dari ucapan Yesus adalah Ia benar-benar menderita, Ia benar-benar mati disalibkan, dan Ia benar-benar bangkit dari kematian. Yesus konsisten dengan ucapan-Nya sendiri. Ia sangat luar biasa. Yesus secara “rela” dihakimi dan direndahkan, dan hina, dan disalibkan. Kebangkitan-Nya adalah cara Ia menunjukkan kemuliaan dan kekuasaan-Nya atas maut.

Konsistensi logis dari ucapan Yesus juga dicatat oleh Rasul Yohanes dalam Yohanes 10:17-18. Teks tersebut berbicara mengenai kematian dan kebangkitan-Nya. Yesus menegaskan (sekaligus menubuatkan) bahwa: “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku” (Yohanes 10:17-18).

Teks Yohanes di atas membuat saya sangat bersukacita karena Yesus konsisten dengan ucapan-Nya. Kematian Yesus sama sekali tidak terpisahkan dengan kebangkitan-Nya di mana Ia sendiri “berkuasa” memberikan nyawa-Nya dan “berkuasa” mengambilnya (menerimanya) kembali. Ini sangat luar biasa. Belakangkan, ada yang mencoba mengarang cerita bahwa Yesus tidak mati dan tidak bangkit. Sementara orang Kristen bersukacita dan merayakan kemenangan Yesus atas maut di sepanjang sejarah, malahan yang lain—yang menolak kematian Yesus pada peristiwa penyaliban—masih sibuk mencari alasan untuk merekayasa kematian-Nya dan sibuk mencari siapa pengganti Yesus ketika Ia disalibkan padahal tak ada bukti apa pun soal itu. Inilah impian para pemimpi yang tak pernah bangun dari tidur siangnya.

Yesus menunjukkan bahwa kebangkitan-Nya adalah bukti bahwa “harapan dari kematian” adalah kebangkitan; dan ini berlaku bagi orang-orang yang percaya dan menancapkan imannya kepada Allah. Iman kepada-Nya tidak bertepuk sebelah tangan. Sungguh, penegasan seperti ini adalah penghiburan bagi umat pilihan-Nya. Perjuangan mempertahankan iman di tengah sesaknya dosa, maraknya dosa, dan maraknya penderitaan yang disebabkan oleh dosa, adalah tanggung jawab semua orang percaya. Kesetiaan dan ketaatan kepada Yesus adalah “harga yang tidak bisa ditawar”. Yesus telah berjuang untuk setia, dan taat pada Bapa-Nya. Ia melewati penderitaan dan kematian-Nya karena Ia telah menegaskan bahwa: “Aku berkuasa memberikannya (nyawa-Nya) dan berkuasa mengambilnya kembali (bangkit dari kematian).

Kebangkitan dari kematian Yesus adalah konfirmasi bahwa Yesus konsisten dengan ucapan-Nya sendiri. Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Ia berkuasa atas maut. Ia pula menyatakan: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh. 11:15-26). Ucapan Yesus tersebut Ia buktikan sendiri; selain Ia membangkitkan Lazarus, Ia sendiri bangkit dari kematian. Kebangkitan tanda bahwa ada kehidupan. Yesus benar: Ia konsisten dengan ucapan-Nya sendiri. Ia tidak hanya berkata kepada orang baik bahwa Ia adalah kebangkitan dan hidup, tetapi Ia membuktikannya pada diri-Nya sendiri.

“Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang ‘dikatakan-Nya’…” (Mat. 28:6; Luk. 24:6-7). Demikian ucapan malaikat kepada Maria Magdalena dan Maria yang lain, saat menengok kubur Yesus (Mat. 28:1). Malaikat mengkonfirmasi konsistensi logis dari ‘perkataan’ Yesus.

Di samping itu, kita perlu mempertimbangkan mengenai keresahan imam-imam kepala dan orang-orang Farisi terhadap ucapan Yesus tentang kebangkitan-Nya. Mereka bersama-sama menghadap Pilatus, dan mereka berkata: “Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: ‘Sesudah tiga hari Aku akan bangkit’. Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama.” Kata Pilatus kepada mereka: “Ini penjaga-penjaga bagimu, pergi dan jagalah kubur itu sebaik-baiknya.” Maka pergilah mereka dan dengan bantuan penjaga-penjaga itu mereka memeterai kubur itu dan menjaganya (Matius 27:62-66).

Apa yang terjadi? Yesus bangkit dari kematian. Imam-imam kepala dan orang-orang Farisi yang resah dengan perkataan Yesus tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghalangi kebangkitan-Nya. Meski kubur Yesus dijaga dan dimeteraikan, tetapi itu tidak dapat menghalangi kematian-Nya. Kuasa kebangkitan begitu dahsyat; tak ada satu pun yang sanggup menghalanginya. Yesus konsisten atas ucapan-Nya. Sangatlah tepat dan tegs ketika Yesus berkata: “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku ‘memberikan nyawa-Ku’ untuk ‘menerimanya kembali’. Sesuatu yang diberi, pasti diterima kembali. Yesus telah membuktikan ucapan-Nya.

Konsistensi logis dari ucapan Yesus terkait dengan kebangkitan dari kematian-Nya, menyatakan lima hal:

Pertama, dalam inkarnasi-Nya menjadi manusia, Yesus memperlihatkan kuasa dan kasih-Nya melalui berbagai perkataan dan perbuatan mukjizat. Dengan demikian, apa yang diucapkan-Nya dan apa yang diperbuat-Nya (misalnya membangkitkan orang mati), Dia buktikan pada diri-Nya sendiri. Ini adalah konsistensi logis yang sangat logis.

Kedua, semua orang yang percaya kepada-Nya akan dibangkitkan Yesus. Keyakinan ini meski belum kita alami, tetapi sudah dialami oleh orang-orang di zaman Yesus; mereka diberikan kehidupan oleh Yesus; dan ini menegaskan bahwa Ia berkuasa memberikan kehidupan kepada siapa yang dikehendaki-Nya (Yohanes 5:21, “Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya”).

Ketiga, kebangkitan Yesus tidak terpisahkan dari kematian-Nya sebagaimana telah Ia nubuatkan (Matius 16:21; 17:22-23; 20:17-19) dan Ia tegaskan: “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.” Kebangkitan adalah wujud kekuasaan Yesus atas kematian (maut) sebagaimana yang Ia tegaskan sendiri dan pula ditegaskan oleh Rasul Paulus: “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita (1 Korintus 15:55-57).

Keempat, kebangkitan Yesus hendak memberikan konfirmasi bahwa “harapan dari kematian” adalah kebangkitan, dan ini akan dialami oleh semua orang yang percaya kepada-Nya. Yesus telah menjadi konfirmasi bahwa kematian-Nya tidak berakhir di kubur, melainkan Ia bangkit dan menegaskan bahwa harapan akan kehidupan setelah kematian itu “ada” karena Ia sendiri telah menyatakannya.

Kelima, melalui kebangkitan Yesus, semua orang percaya kepada-Nya memiliki harapan. Hidup yang diberi kepada Yesus akan diterima kembali oleh kita. Memberikan hidup kepada Yesus dapat dilakukan dengan melayani-Nya, setia dan taat akan firman-Nya, dan mengasihi serta mengampuni musuh-musuh yang selalu mengarang cerita bohong tentang Yesus, kematian, dan kebangkitan-Nya.

Di akhir tulisan singkat ini, saya mengutip pernyataan saya mengenai Salib dan Kebangkitan Yesus yang pernah saya tuliskan di tahun lalu:

“Salib dan kebangkitan Yesus bersifat suprematif atas semua kritikan yang tidak berdasar soal penyaliban, kematian, dan kebangkitan Yesus. Kita harus yakin bahwa Yesus telah mati dan menebus kita dari dosa. Keyakinan itu harus tercermin dari sikap hidup kita yang tulus mengampuni orang-orang yang menghina Yesus, yang mengatakan “kafir” kepada kita, yang mencaci maki Alkitab kita, dan mendoakan musuh-musuh kita sekalipun mereka berencana membunuh kita. Jika Yesus mengampuni para penjahat, dan mendoakan orang-orang yang menghina dan yang mau membunuh-Nya, apa alasan kita untuk tidak mengikuti TELADAN YESUS untuk MENGAMPUNI DAN MENDOAKAN musuh-musuh kita. Kejahatan tidak bisa dibalas dengan kejahatan. Yesus membalas kejahatan dengan cara mendoakan mereka dan mengampuni mereka. Marilah kita saling mengampuni dan saling mendoakan. Percayalah, upah kita besar di surga.”  ( Stenly R Paparang )

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *