Mantan Hakim MK Ingatkan Konsesus Nasional Harus Jadi Pedoman Kehidupan Berbangsa

Mantan Hakim MK Ingatkan Konsesus Nasional Harus Jadi Pedoman Kehidupan Berbangsa

Sumpah Pemuda tahun 1928 adalah bukti bahwa Pemuda yang terdiri dari berbagai daerah sudah mempunyai visi bahwa perbedaan tidak dapat dipungkiri. Para pemuda yang mayoritas suku Jawa tidak memaksakan bahwa bahasa Jawa menjadi bahasa persatuan. Tetapi, justru bahasa Melayu yang jumlah penduduknya minoritas dijadikan acuan bahasa nasional. “Itu bukti bahwa para pemuda pada 1928 sudah punya Visi Persatuan dan kesatuan,” ujar mantan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Dr. Maruarar Siahaan, dalam diskusi “Mempertahankan Konsesus Nasional Kehidupan Berbangsa dan Bernegara di Indonesia,” di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Cawang, Jakarta, Jumat (23/8/2019).Diskusi digelar kerjasama antara  DPP PIKI dan UKI. Dalam diskusi hadir berbagai Ormas dan civitas akademisi kampus-kampus yang ada di Jakarta.

Mantan Rektor UKI itu mengatakan, upaya memasukan tujuh kata dalam UUD 1945 mendapat penolakan dari Indonesia Timur. “Melihat hal itulah membuat Mohammad Hatta berkomunikasi dengan para tokoh-tokoh agama sehingg tujuh kata dihapuskan dalam UUD 1945,” tambah Maruarar. Menurutnya,  prinsip regulasi yang berbasiskan HAM dan demokrasi serta Pancasila sebagai sumber hukum Indonesia. Karenanya, dia mengingatkan agar Indonesia jangan sampai negara gagal. Pasalnya, jika tidak mampu menjaga HAM maka itu telah menjadi negara gagal.

Dia menegaskan, negara wajib untuk melindunginya warga negaranya dari segala upaya kekerasan atas nama mayoritas. Maruarar menekankan,bahwa Pancasila Dan UUD 1945 sudah menjadi konsesus nasional yang harus ditaati setiap warga negaranya.  Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persekutuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) Bhakti Nendra menegaskan, konsesus nasional harus menjadi pedoman berbangsa dan bernegara. “Pemerintah harus tegas bahwa Pancasila dan UUD 1945 sudah final, tidak boleh diganti dengan Ideologi lain. Jika dilakukan maka harga yang sangat mahal yang harus dibayar. Itu yang tidak ingin kita harapakan,”kata Bhakti.

[RAL]

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *