Masa depan Agama

Masa depan Agama

Agama bersifat menghibur diri dan orang lain, selain dari pada menggunakan emosi dan empiris untuk menyatakannya sebagai “suprematif” baik dalam hal-hal tertentu maupun pada semua aspek. Agama dirasakan sebagai kekuatan bertahan hidup meski teknologi dapat mendukungnya untuk menikmati hari-hari yang dilalui, entah dengan sukacita, penuh beban, depresi, ketakutan, kecurigaan, kekecewaan, kemarahan, kebencian, dan lain sebagainya.

Agama menjadi penemu obat-obat jiwa yang dahaga baik spiritual maupun ekonomi, bagi jiwa yang depresi dan kecewa dengan hidup ini. Agama menggiring otak dan emosi untuk setia pada janji Tuhan dan sekaligus menjadikan Tuhan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan gundah gulana jiwa merana. Bahkan kebahagiaan ditengarai sebagai berkat Tuhan bagi mereka yang setia dan taat.

Pada kondisi sekarang ini — zaman Millennial — agama secara simultan menggergaji ranting-ranting keburukan di tubuhnya dan sekaligus melekatkan keburukan dogmatis pada agama lain, dan demikian ia menjadi suprematif. Hingga akhirnya, agama satu dan agama lainnya menjadi saling curiga, saling merendahkan, dan saling berlomba-lomba menjual “surga” dengan diskon besar-besaran asalkah memenuhi syarat yang ditetapkan. Itulah agama dan hidup beragama.

Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai re-formulasi konsep agama dan beragama? Begini: Pertama, kita perlu melihat teks-teks kuno dalam kitab suci sebagai wacana dicta dan gesta yang secara simultan dapat dilakukan, dengan

memperhatikan pesan dan makna dari teks-teks kuno tersebut. Kedua, sikap hidup haruslah memahami kegunaan atau manfaat dari segala sesuatu yang kita gunakan termasuk teknologi mutakhir dan digunakan sebagai sarana mengapresiasi iman dan gagasan imaniah ke dalam konteksnya masing-masing.

Ketiga, setiap agama seyogianya mengusung tema besar yaitu “iman ditempatkan pada hati dan pikiran yang dewasa” dan sedapat mungkin mendewasakan iman yang masih kekanak-kanakan, iman yang direalisasikan dengan berantem dan suka membakar gedung ibadah agama lain. Bahkan lebih dari itu, kebengisan iman tampak dalam memahami dan menafsir fakta ketika ada orang-orang yang berpindah agama dengan cara membencinya atau bahkan ingin membunuhnya, menganggapnya sebagai manusia terkutuk dan kafir.

Keempat, agama harus ditempatkan semeja dengan teknologi dan sambil makan mereka bercakap-cakap soal masa depan dunia mikro dan makro. Mereka pun bisa saling menyuguhkan makanan yang tersedia di meja, tanda saling menghargai.

Kelima, agama seyogianya menghasilkan pemikir-pemikir yang kritis untuk mendewasakan agamanya masing-masing dan kemudian menyuguhkan makanan kedewasaan itu kepada dunia mikro maupun makro sebagai bukti eksistensi imannya.

( Stenly R. Papalang, teolog )

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *