Mengenal Lebih dekat Kandidat Wakil Sekertaris Umum PGI

Mengenal Lebih dekat Kandidat Wakil Sekertaris Umum PGI

Penrad Siagian, lahir di sebuah kota kecil Rantau Prapat 43 tahun yang lalu. Menyelesaikan Pendidikan Sarjana Teologi dari Sekolah Tinggi Teologi Abdi Sabda Medan, sekolah teologi yang merupakan kerjasama dari Gereja-gereja yang ada di Sumatera Utara. Penrad, begitu biasa dipanggil, adalah seorang pendeta dari Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) yang telah menyelesaikan magisternya di Universitas Kristen Duta Wacana di kota Yogyakarta pada tahun 2013.  Selain mengambil studi teologi di Universitas Kristen Duta Wacana, ia juga pernah belajar di Universitas Islam Negeri Yogyakarta Magister jurusan Studi Agama dan Resolusi Konflik. Perjumpaannya dengan isu antariman, atau lebih popular disebut interfaith adalah pada saat ia mendapatkan tugas di kantor sinode GBKP pada 2005–2010 di biro Dialog Antar Iman (DAI). Selama di Kabanjahe, interaksinya bersama kelompok agama lain membawanya terus menggumuli isu-isu interfaith ini. Pengalaman yang ia miliki saat itu, mendorongnya untuk terus mengasah dirinya dalam studi magisternya. Pada saat melakukan studi tersebut, Penrad juga tergabung dalam sebuah Lembaga antariman di Yogyakarta, Dian Interfidei. Intensitas pekerjaan dan studi yang ia lakukan membawanya terus bertekun dan menggeluti isu dialog antaragama yang ia percaya mampu menjadi jembatan komunikasi untuk perdamaian di Indonesia.

Pdt Penrad Siagian  MSi ( Teol )  sosok Pemimpin yang Pluralis, cerdas dan rendah hati

Menembus Kesunyian

Kerja di isu antariman sebenarnya sudah digumuli oleh Penrad waktu ia menjabat sebagai sekretaris tim kerja komisi Pemuda PGI Wilayah Sumatera Utara. Pada saat itu ia menginisiasi pendirian Forum Dialog Agama Medan (FDAM). Pada saat itu terjadi pertemuan raya pemuda oikumenis antardenominasi Gereja se-Sumatera Utara. Tidak berhenti di situ, setelah menyelesaikan kuliah di STT Abdi Sabda ia bertugas di Aceh Tenggara. Gairahnya melakukan dialog antariman ia kembangkan dengan membentuk FORDAM Agara (Forum Dialog Antar Agama dan Masyarakat Aceh Tenggara). Dalam forum itu ia menjabat sebagai wakil ketua. Karya dan pelayanan antariman ini Penrad hayati karena kesadarannya bahwa Indonesia adalah sebuah bangsa yang lahir dari segala keberagaman yang cukup kompleks. Mulai dari keberagaman etnis, agama, dan juga bahasa. Keberagaman tersebut menurutnya adalah pisau bermata dua. Bisa menjadi berkah, sekaligus sebagai musibah. Kekayaan Indonesia ini, baginya harus terus dikelola agar tidak menjadi bibit konflik yang dimulai dari eksklusivitas berdasar pada basis-basis keberagaman yang ada. Penrad menyampaikan bahwa akhir-akhir ini fenomena eksklusivitas tersebut mulai terjadi. Politik identitas yang makin mengeras di berbagai tempat adalah salah satu perwujudan dari pengerasan identitas tersebut.

Penrad mengimani bahwa karya lintas iman adalah bagian dari kerja oikumene yang lebih luas. Pengetahuan dan pengalaman oikumene ini Penrad dapatkan saat aktif di GMKI di STT Abdi Sabda. Penrad adalah salah satu inisiator dan pendiri STT Abdi Sabda GMKI Medan, komisariat Abdi Sabda. Penrad pernah menjadi anggota pengurus Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Daerah Tanah Karo pada 2009-2013. Kerja dan karya oikumene bagi Penrad bukan hal yang baru, pengalamannya sejak mahasiswa sampai pada karya pelayanan akhir sebagai sekretaris eksekutif Bidang Keadilan dan Keutuhan Ciptaan PGI pada 2015-2018 menjelaskan jejaknya di gerakan oikumene .

Pasca tidak di dalam struktur PGI, Penrad bersama dengan beberapa kolega mendirikan Lembaga bernama Paritas Institute. Sebuah Lembaga yang didedikasikan untuk perjuangan HAM dan kesetaraan. Melalui Paritas Institute, Penrad terus melakukan karya oikumene bersama gereja-gereja di berbagi tempat di Indonesia untuk membentuk komunitas penggerak perdamaian bagi anak-anak muda. Dalam hal ini, bagi Penrad anak-anak muda adalah masa depan Gerakan oikumene dan keberagaman di Indonesia. Dan dalam karya ini, Penrad melakukannya melalui jalan kesunyian tanpa hingar-bingar pemberitaan media. Jejak gerakan oikumene juga dilakoni Penrad sebagai salah satu ketua di Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (DPP PIKI).  Pada akhirnya, jalan-jalan sunyi karya Penrad adalah sebuah jejak yang tidak terpisahkan dari kehidupan berbangsa di Indonesia.

Mengutip Pramodeya Ananta Toer dalam karyanya di “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu”, Penrad percaya bahwa jalan sunyi yang ia lakoni selama ini, adalah sebuah karya yang harus dilakukan, demi sebuah kehormatan manusia yang memperjuangkan kemanusiaan. Pramoedya mengatakan bahwa barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusiaan dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara.

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *