Mengingat Opa Nas, Sang Jenderal Besar AH. Nasution

Mengingat Opa Nas, Sang Jenderal Besar AH. Nasution

Setiap pembicara soal ’65 memori saya meluncur ke masa saat saya sering bolak-balik ke rumah Jenderal Besar Abdul Haris Nasution di Jalan Teuku Umar 40, Jakarta. Di sini Opa Nas lolos dari penculikan, tetapi putri bungsunya tewas tertembak. Kebetulan papi saya bersahabat dengan menantu Opa Nas, Eduard Nurdin yang menikah dengan anak sulung Opa Nas. Papi saya berkenalan dengan Om Nurdin yang bekerja di Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN), ia adalah penerbang lulusan Uni Soviet saat papi saya bekerja di Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT). Saat itu IPTN dan BPPT berada di bawah BJ. Habibie.

Saat pindah dari Makassar ke Jakarta tahun 1984, saya baru kelas 5 SD. Om Nurdin membantu kami mengangkut barang ke rumah baru di Bintaro dengan menyediakan mobilnya. Om Nurdin jua yang mengajak kami sekeluarga dengan istrinya dan keempat putrinya ke Ice Cream Festival di Hotel Sari Pan Pacifik. Itulah saat pertama saya masuk dan makan di hotel. Om Nurdin pula yang mengajak kami makan di fastfood tersohor masa itu, American Hamburger (AH). Selain itu, Om Nurdin beberapa kali meminjamkan mobilnya agar papi saya bisa latihan ski air di Sunter tiap Minggu. Keakraban keduanya itu menbuat saya sempat nginap di rumah Teuku Umar 40, tidur bareng Marissa, cucu Opa Nas yang seumur dengan saya. Adik saya seumur dengan cucu terkecil Opa Nas Vitha.

Rumah Teuku Umar adalah rumah dengan kamar-kamar luas, langit-langit tinggi dan berjendela lebar sehingga bisa dilewati tiga orang sekaligus. Ruang tamunya berbentuk persegi panjang dengan sofa-sofa panjang yang dipenuhi tamu demi tamu yang ingin bertemu Opa atau Oma Nas. Oma Nas aktif di kegiatan amal yayasan dan saya bersama adik saya sempat jadi peragawati cilik untuk acara fashion show yang diadakan Oma Nas dan yayasan.  Oma Nas rutin tenis, sedangkan Opa Nas menghabiskan waktu membaca. Jika tau kami datang, Opa Nas biasa keluar dari kamarnya, mengenakan kaos oblong putih, bersarung dan berkacamata menyapa sebentar, salaman, cipika cipiki dan kemudian kembali ke kamar. Momen berkesan yang saya ingat adalah saat saya kawin, Opa Nas kasih amplop hadiah yang masa itu baru berpindah dari tradisi kasih kado ke tradisi kasih uang. Lalu pernah Opa Nas ikutan jongkok bermain bersama anak saya yang saat itu lagi seneng merangkak dan anak saya keluar masuk kolong meja makan. Opa Nas sibuk mengawasi anak saya. Bisa dibilang, keluarga kami sering sekali mampir ke rumah Opa Nas karena papi saya sering ngobrol berjam-jam dengan Om Nurdin. Om Nurdin dan keluarga tinggal bareng Opa Nas di Teuku Umar 40.

 Kapten Piere Tendean

Beberapa kali saat kami datang Lebaran, ada keluarga Pierre Tendean. Kedua keluarga masih berhubungan baik. Tante Yanti, putri sulung Opa Nas, dulu pernah bilang, “Pierre itu ganteng lho. Kalo ngga ada Pierre, ngga tau apa yang terjadi.” Saat itu saya tanya, “Pierre kayak apa sih” karena saya seneng pada Pierre Tendean yang ksatria. Sebuah foto Pierre Tendean berpigura ukuran kecil diletakkan di atas meja pajangan di ruang keluarga. Sebuah lukisan besar Ade Irma Suryani terpajang di tembok.  Kamar Pierre, waktu itu menjadi kamar asisten rumah tangga keluarga Nasution. Satu penyesalan terbesar saya setelah akhirnya saya jadi wartawan adalah, “Kenapa saya ngga bicara soal peristiwa ’65 saat punya akses begitu besar dan banyak sekali pertemuan dengan Opa Nas. Kok ya saya ngga membahas peristiwa ’65?” Saat itu saya enggan, khawatir mengorek kenangan pilu. Tapi papi saya dan Om Nurdin saat guyon pernah terlontar perkataan, “Jelek-jelek gini saya menantu bekas calon Presiden lho.”

Hubungan baik papi saya dengan Om Nurdin berlangsung hingga pensiunan. Setelah itu mereka masih saling berbagi cerita lewat telepon sampai saat papi saya ke surga tahun 2015. Om Nurdin beberapa kali mengirim foto cucunya ke saya dan bertanya kabar kami. Kali lain, terutama saat kasus Ahok, ia mengirim info-info tentang politik. Sampai di sini, saya berbeda pendapat dengannya.  Namun sebagai teman baik papi saya, saya tetap respek dan menghargai kebaikan keluarga Om Nurdin dulu. Sebagai keluarga korban Peristiwa ’65, suatu kali saya sempat menghubungi Tante Yanti untuk liputan. Waktu itu saya ingin mengangkat soal rekonsiliasi antar anak korban ’65 baik pelaku maupun korban. Tante Yanti bilang, “Kita ngga ada masalah kok dengan anak-anak PKI. Kita ketemu.” Tentu pernyataan itu membutuhkan penjelasan lebih jauh, “Jadi, apakah ngga ada masalah karena bukan PKI pelakunya atau ngga ada masalah karena sudah memaafkan perbuatan PKI?” Namun, karena liputan batal, saya pun ngga jadi atur waktu ketemu Tante Yanti.

Menurut saya, “Butuh kebesaran hati untuk memaafkan pelaku, namun butuh keberanian untuk pelaku mengakui kesalahannya.” Rekonsiliasi generasi kedua dan ketiga anak-cucu pelaku dan korban Peristiwa ’65 yang saat ini masih hidup bisa menjadi contoh nyata pemulihan luka tragedi kemanusiaan itu. Gus Dur sebagai tokoh NU telah menjadi teladan dengan keberanian mengakui “kesalahan” NU dan memaafkan tindakan keji simpatisan PKI yang juga membunuh para kiai NU. Tentu bagi keluarga pelaku dan apalagi keluarga korban tak mudah melupakan masa kelam itu apalagi jika selalu diusik dan dijadikan bahan provokasi. Saya turut berempati terhadap kedua pihak, semoga beban masa lalu itu berlalu seiring waktu

( Monique )

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *