Peragawati Batik Pertama Itu Berdarah Yahudi

Peragawati Batik Pertama Itu Berdarah Yahudi

Tahukah Anda, baju batik yang Anda gunakan saat ini, kreasi awalnya berasal dari para penjahit Belanda yang ada di Jakarta dan Bandung? Kebetulan Oma saya, Cecilia van Oers adalah peragawati mode show (peragaan busana batik) yang (mungkin) pertama kali berlangsung di Indonesia. Oma bilang bapaknya itu orang Belanda keturunan Yahudi yang ada di Indonesia saat zaman Belanda dulu. Ayah Oma bekerja sebagai apoteker di Surabaya lalu pindah ke Blitar saat Oma lahir.

Orang Indonesia masa itu hanya mengenal batik sebagai kain pelengkap kebaya/jarik namun tidak mendesain untuk busana apalagi gaun malam atau celana panjang. Pemilik rumah-rumah mode kala itu kebanyakan orang Belanda yang merintis penggunaan batik sebagai busana. Kreasi mereka kemudian diperagakan oleh para peragawati, termasuk oleh Cecilia van Oers. Presiden Soekarno termasuk tokoh yang mendorong batik untuk digunakan sebagai busana bukan sekadar untuk kebaya.

Cecilia van Oers

Seperti terlihat pada foto pertama, gaun malam kombinasi batik terlihat sangat elegan. Dilengkapi dengan sarung tangan hitam (handschoen) yang terkesan seksi. Peragaan busana ini berlangsung saat pertemuan Ikatan Ahli Kecantikan di Indonesia yang Oma ikuti. Selain batik, corak lurik pun turut diubah menjadi busana siap pakai. Celana panjang yang belum banyak digunakan oleh wanita masa itu dikreasikan menggunakan lurik yang memang identik dengan garis-garis. Kain batik pun menjadi dress sehari-hari yang modis berkat rok lipit mengembang dan desain off shoulder. Penampilan menjadi semakin gaya karena dilengkapi pula dengan tas unik. Jika diperhatikan ibu yang berada di sisi catwalk, si ibu mengenakan kebaya berpadu kain batik, yang umumnya digunakan masa itu.

Cecilia van Oers

Oma saya masih menyimpan beberapa foto lawas ketika ia menjadi peragawati fashion show batik. Foto-foto lawas ini merupakan hasil karya studio foto yang marak pada masa itu, ketika semua orang yang ingin berfoto harus ke studio foto. Studio foto yang berbaik hati memberikan dokumentasi untuk Oma Cecie (panggilan Cecilia van Oers) antara lain: Foto “Muller” di Jalan Pasar Baru No 28 Jakarta dan Foto “Khouw Goan Seng” di Kwitang No 2. Nomor telepon yang dicantumkan dibalik foto: GB 855. Pada setiap foto terdapat stempel foto itu. Selain dokumentasi dari studio foto, ada juga dokumentasi dari salon yakni Java Salon di Jalan Krekot. Bisa jadi, seluruh riasan dan tata rambut para peragawati adalah hasil kerja keras Java Salon. Bagi Anda yang mengenal atau terkait dengan nama-nama pemilik studio foto, salon dan perancang busana, saya menyampaikan terima kasih untuk dokumentasi yang sangat menarik ini. Peragaan busana batik saat itu berlangsung di Hotel Der Nederlander di Medan Merdeka, Hotel Des Indes di Jalan Veteran dan di Bandung.

(Monique Hadassa Indonesia )

 

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *