Pilpres 2019 Adalah Pertarungan Mempertahankan Pancasila Atau Mengganti dengan Khilafah

Pilpres 2019 Adalah Pertarungan Mempertahankan Pancasila Atau Mengganti dengan Khilafah

JAKARTA, Harmoni.co.id — Pemilihan Presiden (PilPres) pada 17 April 2019 menentukan apakah negara kita masih berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 atau ideologi lain, Khilafah. Jadi “pada saat inilah kita bertarung mempertahankan dasar negara Pancasila atau kita membiarkan mereka menggantikannya dengan ideologi lain, yaitu Kilafah,” tegas Pdt Dr A. A. Yewangoe (Ketua Majelis Pertimbangan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) dalam Seminar Kebangsaan pada Senin (25/3/2019) pukul 17.00 WIB di Grha Oikoumene, Jakarta Pusat.

Pilpres 2019 menjadi penentunya karena kedua calon yang diusung menggambarkan pertarungan yang disampaikan Pdt Yewangoe sebagai pembicara dalam Seminar ini. Yewangoe mengingat kita sebagai warga negara Indonesia yang menjunjung Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika harus tegas dan berani memilih pasangan calon (paslon) Presiden yang juga menjunjung Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Ada dugaan partai-partai politik dari salah satu paslon tersebut menyusupkan ideologi Khilafah yang memang terbukti aksinya mengacau dan menyerang pemerintah saat ini.

Kita menyakini baik Jokowi maupun Prabowo, masih berjiwa Pancasila. Namun, kita perlu mencermati Parpol-parpol yang secara lihai mengusung ideologi yang dimaksud. “Kalau saya tetap pilih 01 (Red. Jokowi). Bahkan sejak awal Pilpres 2014 saya tetap 01,” tegas Yewangoe meskipun terkesan promosi paslon 01. “Tetapi, terserah Saudara mau pilih siapa? Saya masih tetap meyakini 01 terbukti kerjanya,” lanjut guru yang masih mengampu di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta ini dan juga anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Pada Seminar tersebut diundang juga pembicara lainnya, Menko Maritim Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan. Namun, ia tidak dapat hadir karena mendadak mendapat tugas dari Presiden, sehingga digantikan oleh Laksamana Madya Fred Salem Lonan. Sebagai moderatornya adalah Pdt Dr Rony Mandang, M.Th (Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia). Acara tersebut dipelopori oleh Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI).

Ketua Tim Kerja Pelaksana, Deddy Madang, S.H, M.H. memberi keterangan: “Dialog yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini dilandasi oleh kesadaran bahwa Pemilu kali ini tidak tampak sekadar parsaingan para kandidat pemimpin, melainkan sebuah pertaruhan ideologis yang berkaitan erat dengan masa depan bangsa. Hal serupa kembali ditegaskan Pdt Yewangoe dalam penyampain materinya. Beliau juga mengingatkan agar warga gereja harus secara cerdas menempatkan diri termasuk dalam memahami secara benar momentum Pemilu kali ini bukan soal pertarungan antara Kristen versus non Kristen, melainkan momentum penting dalam memastikan keberlanjutan kehidupan Bangsa Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara itu, Laksamana Madya Fred Salem Lonan, lebih mengajak agar gereja benar-benar mampu menangkal berbagai upaya penggiringan isu dan pemutarbalikan kebenaran yang secara masif disebar melalui berbagai media.”

Adapun tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah sebagai berikut:

Pertama, dilakukan dalam rangka memberikan edukasi politik bagi warga gereja. Kegiatan Ini merupakan rangkaian kegiatan dari beberapa kegiatan yang sudah dilakukan oleh FUKRI dan anggota-anggotanya. Seminar Kebangsaan kali ini dilakukan dengan mengundang pembicara yang berbeda.

Kedua, menjadikan momentum Pemilu 2019 ini sebagai sebuah pesta demokrasi yang dirayakan oleh semua warga negara. Karena itu, ada terkandung pesan di dalamnya berupa ajakan bagi warga gereja untuk menggunakan hak pilihnya secara bertanggung jawab.

Ketiga, FUKRI juga ingin memberikan perhatian bagi proses demokrasi yang sedang berlangsung agar semua dapat tercipta dialog yang etis dan elegan di antara sesama anak bangsa. Perbedaan pilihan politik tidaklah mesti membuat bangsa ini menjadi terpecah.

Seminar ini dihadiri berbagai pemimpin sinode gereja, pemimpin umat, pemimpin sekolah teologi, pemimpin organisasi Kristiani (Kristen dan Katolik), para pengusaha, para aktivis gerakan, dan ratusan peserta individu.

 

Pewarta: Boy Tonggor Siahaan

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *