Pnt Ivan Rinaldi Luntungan : pikiran sesat soal kumpul kebo.

Pnt Ivan Rinaldi Luntungan  : pikiran sesat soal kumpul kebo.

Pagi tadi saya mendapat pertanyaan dari seorang teman lewat aplikasi pesan di HP saya. Dia bertanya perihal reaksi saya terkait pernyataan seorang ahli hukum tentang wilayah yang menoleransi “kumpul kebo” dalam sebuah tayangan talkshow di salah satu televisi swasta nasional. Saya pun membalas pertanyaan teman saya itu dengan mengatakan, “Kok saya yang ditanya?” Ia kemudian beralasan bahwa, pertama, saya orang Minahasa; yang kedua, terkait jabatan struktural saya di lembaga aras gereja nasional; dan terakhir, karena saya dianggap sedang menggebu-gebu belajar hukum di salah satu universitas swasta terkemuka di Jakarta.

Sontak alasannya tersebut membuat saya pun menjawab singkat, “Jangan mengeneralisasi sesuatu hal dengan agama dan suku tertentu, bahaya! Bisa salah kaprah masyarakat.” Saya sebagai orang Minahasa dan kebetulan juga menjadi pengurus perkumpulan orang-orang Minahasa yang berada di Jabodetabek merasa terusik dengan pernyataan tersebut dan harus meluruskannya dengan benar, setidaknya dengan yang saya pahami dan saya alami sendiri.

Menurut saya, mengeneralisasi sesuatu hal, apalagi jika hal itu merupakan sesuatu yang sensitif di tengah masyarakat yang kental dengan budaya dan agama seperti di Indonesia, khususnya di wilayah Sulawesi Utara, haruslah secara jelas dan ‘clear’ supaya masyarakat yang mendengarnya tidak salah persepsi.

Perempuan Minahasa

Siapa yang tidak kenal dengan perempuan Minahasa yang cantik-cantik dan berwawasan luas, pintar dan selalu menjaga penampilanya? Banyak yang mengatakan 1 dari 5 wanita yang cantik Memang, dari kacamata saya, secara fisik perempuan Minahasa dianugerahi paras dan penampilan yang menarik, ini merupakan satu hal yang wajar saja karena perempuan Minahasa merupakan campuran penduduk asli Minahasa dengan pendatang dari Eropa seperti Belanda, Spanyol dan Portugis.

Perempuan Minahasa dikenal sebagai sahabat yang menyenangkan, murah senyum, tampil anggun dan penuh wibawa serta penuh inisiatif. Inilah juga yang menjadi kesempurnaan perempuan Minahasa di mata kaum lelaki. Lalu, apakah mudah bagi seorang perempuan Minahasa hidup tanpa ketidakpastian status (kumpul kebo)? Sebagai orang Minahasa, saya mengatakan tidak. Kultur adat istiadat Minahasa menempatkan perempuan adalah makhluk yang tinggi nilainya. Banyak pejuang emansipasi perempuan di Minahasa dan banyak pula intelektual dari perempuan Minahasa.

Perempuan Minahasa dianugrahkan Kecantikan

 Orang Minahasa dan Kekristenan

Kekristenan masuk ke Minahasa pada tahun 1563 oleh Pastor Diego de Magelhaens dan Pedro de Mascarenhas. Dari Total jumlah penduduk Sulut 2,2 juta jiwa, 63,4 persen beragama Kristen Protestan dan 4 persen adalah Katolik. Dan dari Minahasa banyak melahirkan pendeta-pendeta di Indonesia serta tokoh Gereja besar, misalnya Pdt Wilhelm Johannis Rumambi yang pernah menjadi menteri dua kali periode pada pemerintahan Presiden Soekarno dan juga pernah menjabat Sekretaris DGI. Agama Kristen yang banyak dianut oleh sebagian besar orang Minahasa adalah agama yang melarang perzinahan dalam bentuk apapun, termasuk dengan istilah ‘kumpul kebo’ jika hal itu dilakukan tanpa dasar kesetiaan dan sakral karena pernikahan di dalam Kristen adalah sesuatu yang sakral. Oleh karenanya, salah satu sakramen dalam liturgi gereja adalah pemberkatan nikah di hadapan Tuhan (Gereja) melalui tata cara Gereja.

Memang, dari kacamata saya, secara fisik perempuan Minahasa dianugerahi paras dan penampilan yang menarik, ini merupakan satu hal yang wajar saja karena perempuan Minahasa merupakan campuran penduduk asli Minahasa dengan pendatang dari Eropa seperti Belanda, Spanyol dan Portugis. Perempuan Minahasa dikenal sebagai sahabat yang menyenangkan, murah senyum, tampil anggun dan penuh wibawa serta penuh inisiatif. Inilah juga yang menjadi kesempurnaan perempuan Minahasa di mata kaum lelaki. Lalu, apakah mudah bagi seorang perempuan Minahasa hidup tanpa ketidakpastian status (kumpul kebo)? Sebagai orang Minahasa, saya mengatakan tidak. Kultur adat istiadat Minahasa menempatkan perempuan adalah makhluk yang tinggi nilainya. Banyak pejuang emansipasi perempuan di Minahasa dan banyak pula intelektual dari perempuan Minahasa.

Tari Maengket dari Minahasa

Orang Minahasa dan Kekristenan

Kekristenan masuk ke Minahasa pada tahun 1563 oleh Pastor Diego de Magelhaens dan Pedro de Mascarenhas. Dari Total jumlah penduduk Sulut 2,2 juta jiwa, 63,4 persen beragama Kristen Protestan dan 4 persen adalah Katolik. Dan dari Minahasa banyak melahirkan pendeta-pendeta di Indonesia serta tokoh Gereja besar, misalnya Pdt Wilhelm Johannis Rumambi yang pernah menjadi menteri dua kali periode pada pemerintahan Presiden Soekarno dan juga pernah menjabat Sekretaris DGI. Agama Kristen yang banyak dianut oleh sebagian besar orang Minahasa adalah agama yang melarang perzinahan dalam bentuk apapun, termasuk dengan istilah ‘kumpul kebo’ jika hal itu dilakukan tanpa dasar kesetiaan dan sakral karena pernikahan di dalam Kristen adalah sesuatu yang sakral. Oleh karenanya, salah satu sakramen dalam liturgi gereja adalah pemberkatan nikah di hadapan Tuhan (Gereja) melalui tata cara Gereja.

( Tribune Menado )

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *