Y E S U S D A N S A L I B

Y E S U S  D A N   S A L I B

Pada komunitas tertentu, salib dipahami secara berbeda dengan apa yang dipahami oleh umat Kristen. Salib dipandang sebagai penghinaan dan tanda kutuk Allah sehingga umat Kristen—sebagai imbasnya—dianggap sebagai orang-orang yang aneh. Sejatinya, bukanlah orang-orang Kristen yang aneh, melainkan orang-orang yang melihat salib secara bertolak belakang dengan doktrin salib Kristen.

Salib memang terlihat hina, terlihat sadis dan kejam, terlihat sebagai tanda kutuk. Tetapi salib justru memiliki makna yang jauh lebih dalam dari pemahaman dan penglihatan (cara pandang seseorang) yang tidak sepenuhnya memahami konteks dan latar belakangnya. Terkadang, mereka yang salah dan secara sesat memahami salib justru merasa yang paling tahu tentang salib. Kebiasaan paralogisme seperti telah menjamur di komunitas tertentu, dan orang-orang yang membenci salib. Kita melihat bahwa salib adalah cara Allah untuk menyatakan kasih, penebusan, pengampunan, dan keselamatan. Dalam catatan Perjanjian Lama, pengampunan (dan penyelamatan) yang Allah kerjakan terlihat dalam dua cara:

Pertama, pengampunan Allah berdasarkan kasih karunia (kerelaan Allah untuk mengampuni manusia berdosa). Hal ini terlihat pada kejahatan pertama yang dilakukan Kain, yaitu membunuh Habel, adiknya. Kejadian 4:8-15, Kata Kain kepada Habel, adiknya: “Marilah kita pergi ke padang.” Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. Firman TUHAN kepada Kain: “Di mana Habel, adikmu itu?” Jawabnya: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” Firman-Nya: “Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah. Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu … Firman TUHAN kepadanya: “Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat.” Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapapun yang bertemu dengan dia.

Tuhan mengampuni Kain berdasarkan kasih karunia-Nya dan tidak memerintahkan Kain untuk mempersembahkan kurban sebagai pengampunan dosanya yitu membunuh adiknya. Kasih karunia ini berlaku bagi Adam, Hawa, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, dan lainnya sebelum masa di mana Musa diperintahkan Allah untuk mempersembahkan berbagai kurban (kurban penebus salah, kurban penghapus dosa, dan lainnya).

Kedua, pengampunan Allah berdasarkan persembahan kurban, yang terkait erat dengan darah dan kematian. Musa diperintahkan Tuhan untuk mengadakan persembahan kurban-kurban, dan yang terkait dosa adalah kurban penghapus dosa (Kel. 29:14; 29:36; 30:10; Im. 4:3; 4:14; 4:20; 4:24-25; 4:29; 4:33; dan lain-lain). Konsep ini kemudian digenapi dalam diri Yesus Kristus; Ia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29).  Perjanjian Lama menegaskan bahwa kurban pengganti terkait dengan darah dan kematian; kurban keselamatan dan pengampunan juga memiliki makna yang sama. Dalam Kejadian 22:8 Abraham dengan yakin berkata anaknya: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya.” Dan kita melihat bahwa seharusnya Ishak yang dipersembahkan Abraham, kita Allah menggantinya dengan seekor domba jantan (Kej. 22:13). Baik lembu jantan maupun domba jantan bertujuan untuk pengudusan, penebus salah, yang dengannya Allah menghendaki umat-Nya diselamatkan (bdk. Kel. 29:1-28; Kel. 5:16-19).

Kini, dalam Perjanjian Baru, Allah mengganti domba jantan dengan Yesus Kristus; darah-Nya dicurahkan dan tubuh-Nya mengalami kematian. Depiksi (penggambaran) ini adalah perwujudan dari cara Allah—berdasar pada kedaulatan-Nya untuk menebus dan menguduskan umat-Nya—harus berurusan dengan “darah dan kematian”. Darah adalah lambang kehidupan dan kematian adalah lambang kebangkitan. Yesus secara tepat menegaskan hal ini: “Akulah kebangkitan dan hidup”. Yesus juga menegaskan: “Matius 26:28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Mat. 26:28). Di dalam Yesus tergabung kasih karunia dan pengurbanan untuk pengampunan, penebusan dan pengudusan. Rasul Paulus menegaskan bahwa: Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.

Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita — oleh kasih karunia kamu diselamatkan — dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Ef. 3:3-10).

Di saliblah, Allah menunjukkan kekerasan dan kebejatan manusia dan Yesus tuntas menyelesaikannya. Di saliblah, manusia mempertontonkan kehebatan kekerasan yang luar biasa yang dengannya Kristus tak gentar hingga kematian-Nya. Di saliblah, Allah menyatakan bahwa kejahatan sebesar apa pun, semuanya diampuni-Nya di dalam dan melalui Yesus Kristus. Allah, dengan kasih-Nya yang besar telah menunjukkan kebesaran karunia dan pengampunan-Nya untuk menyelamatkan umat yang berdosa. Salib adalah cara Allah membela dan menyelesaikan masalah dosa. Mereka yang percaya kepada Yesus Kristus, semuanya melihat kepada Kristus yang telah menderita, mati, dan bangkit dari kematian.

Yesus Kristus adalah pusat iman Kristen. Allah telah mendamaikan diri-Nya dengan umat-Nya melalui kematian Anak Domba. Hal ini adalah kelanjutan dari PL dan sekaligus penggantian dari “domba” ke “manusia”. Sebelumnya Allah menggantikan dari “manusia” ke “domba” yang terjadi pada peristiwa Abraham mempersembahkan Ishak. Kini, kita patut bersyukur, Allah dengan kasih-Nya telah menunjukkan kepada kita bahwa Ia mengasihi dan mengampuni kita dari segala kejahatan kita.

Tapi mengapa harus “salib”? Begini: manusia seringkali mengajukan keberatan terhadap cara Allah menebus. Kita melihat bahwa dalam PL, darah dan kematian menjadi simbol penebusan, pengudusan, penghapus dosa, dan lainnya. Musa dan segenap bangsa Israel tetap menjalankan itu sebagai perintah Allah, karena mereka telah berdosa bukan kepada sesama manusia, tetapi berdosa kepada Allah. Singkatnya, hanya Allah yang berhak mengampuni dosa dan menentukan bagaimana caranya umat yang berdosa untuk diampuni, ditebus, dikuduskan, dan diselamatkan.

Orang-orang yang menolak salib sebenarnya adalah orang-orang yang tidak memahami dosa dan pemberontakannya sendiri. Mereka mengira bahwa Allah dapat saja menebus dan menyelamatkan manusia dengan cara lain. Tetapi apa dasarnya? Lalu kapan itu terjadi? Seperti yang telah saya kemukakan di atas bahwa penyelamatan dan pengampunan Allah dilakukan dengan dua cara yaitu kasih karunia dan pengurbanan. Jika demikian, mengapa masih meragukan pengampunan dan penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus yang disalibkan?

Yesus dan salib adalah fakta sejarah yang telah ditetapkan Allah. Orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus melihat kepada salib sebagai lambang kehinaan, tetapi di baliknya, adalah pengampunan dan keselamatan yang Allah siapkan. Yesus dan salib adalah depiksi anugerah Allah yang luar biasa. Ketika manusia dapat melihat kejahatan dan pemberontakannya di hadapan Allah, maka salib yang dilihatnya akan benar-benar dipahami. Salib memang terlihat hanya sebagai penyiksaan dan kebrutalan penyiksaan. Akan tetapi, Kristus melihat salib sebagai jalan penyelematan dan pengampunan yang harus Dia lewati. Ia pun secara tuntas melewatinya dan mengatakan: “Sudah Selesai!”

 PL melihat kepada Allah sebagai Pribadi yang mengampuni dan mengasihi; Allah menunjukkan kasih dan pengampunan-Nya melalui kasih karunia dan persembahan kurban-kurban. Umat PB (termasuk kita) melihat kepada Yesus Kristus—Logos Allah yang menjadi daging [manusia] sebagai Pribadi yang mengampuni dan mengasihi; Kristus menunjukkan kasih dan pengampunan-Nya melalui kasih karunia dan persembahan diri-Nya sebagai kurban yang sempurna di hadapan Allah.

Melihat Yesus yang disalibkan tidak menjadikan Yesus rendah dan terhina sedemikian rupa meskipun pada peristiwa penyaliban Yesus dihina, diejek, direndakan, dan ditertawakan. Tetapi, Yesus membalikkan semua itu melalui penggenapan nubuat-Nya sendiri bahwa “Anak Manusia akan bangkit pada hari yang ketiga”. Memang, penyaliban dan kematian Yesus begitu menyakitkan hati para murid Yesus; tetapi Yesus telah memberitahukan lebih dahulu berulang kali bahwa Ia akan diserahkan, disiksa, disalibkan, dan mati. Tetapi tidak berhenti di situ: “Ia akan bangkit pada hari ketiga”.

Salib adalah karya yang luar biasa; meski terhina tetapi salib adalah yang termulia; meski dipandang rendah, salib menjadikan kita ditinggikan; meski ditertawakan, mereka yang menertawakannya dan menolaknya sebenarnya menertawakan diri sendiri, menertawakan dosa dan pemberontakannya di hadapan Tuhan. Salib, meski ditolak oleh mereka yang merasa suci dan sempurna, tetapi Tuhan Yesus tidak menolak mereka yang menyadari dosa dan pemberontakannya dan melihat kepada salib-Nya.

Salib telah menyelamatkan dunia. Kekerasan dibalas dengan pengampunan. Perkataan Yesus adalah perkataan yang menyadarkan dunia bahwa pengampunan adalah jalan utama untuk menghentikan kekerasan dan kejahatan. Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34). Hingga sekarang, kekerasan dan kekejaman terhadap para pengikut Yesus hanya dapat dibalas dengan pengampunan, karena Yesus telah memberitakan teladan ini.

Mari melihat salib sebagai kasih karunia dan pengampunan Allah di dalam Yesus Kristus. Kita harus sadar akan dosa dan pemberontakan kita di hadapan Allah. Yesus Kristus yang tersalib bukan karena Dia lemah dan tak berdaya. Sama sekali tidak! Yesus yang tersalib karena Ia harus melewati “jalan itu” untuk menyatakan kasih-Nya yang luar biasa, hingga akhirnya, mereka yang ditebus-Nya beroleh damai sejarah, kasih, dan pengampunan. Dunia ini diubah oleh kasih dan pengampunan Yesus Kristus.    ( Stenly R Paparang )

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *